BPBD Bantul Sebut Sistem Peringatan Dini Banjir Masih Terbatas

Bantul, jurnalsumatra.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebut early warning system atau sistem peringatan dini untuk bencana banjir yang terpasang di wilayah ini masih terbatas dan perlu ditambah.

  “Early warning system untuk banjir masih sangat terbatas, dan itupun juga belum teruji terkait dengan apakah EWS itu mampu betul-betul menjadi sebuah acuan untuk peringatan dini masyarakat,” kata Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Kamis.

  Pihaknya tidak merinci berapa titik EWS untuk banjir yang sudah terpasang, namun diakui belum menjangkau wilayah-wilayah Bantul yang berpotensi mengalami kejadian banjir apabila terjadi hujan deras, sementara titik yang sudah terpasang, masih perlu pengembangan dari sisi teknologinya.

  “Karena memang sebuah teknologi itu perlu terus pengembangan, itu terkait dengan banjir. Akan tetapi kalau yang terkait tanah longsor memang sudah ada beberapa titik EWS, kurang lebih kita sudah memasang 10 titik untuk EWS longsor,” katanya.

  Namun demikian, Dwi juga mengatakan, ancaman potensi tanah longsor di Bantul jumlah sebarannya masih lebih banyak jauh dari jumlah sistem peringatan dini yang saat ini terpasang, karena itu ke depan juga perlu penambahan EWS dan inovasi teknologi yang diterapkan.

  “Ke depan kita akan melihat efektifitas dari 10 EWS longsor itu, kalau betul-betul efektif kita akan kembangkan peralatan dan menambah pemasangan di beberapa titik, namun demikian kalaupun nanti alat tersebut perlu evaluasi, kita akan evaluasi,” katanya.

  Dwi mengatakan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana warga masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana baik banjir dan tanah longsor tersebut bisa mengembangkan kearifan lokalnya dalam artian dapat melakukan deteksi dini atau memahami tanda-tanda longsor seperti apa.

  “Ini yang perlu diketahui masyarakat, sehingga manakala sudah mengetahui dan deteksi tanda tanda bencana akan terjadi masyarakat sudah bisa mengantisipasi segala kemungkinan yang ada dan meminimalkan dampak korban baik jiwa maupun materi,” katanya.

  Dia juga mengatakan, dan yang penting masyarakat jangan hanya mengandalkan sebuah peralatan yang suatu saat mungkin teknologi tersebut bisa eror atau tidak berfungsi.

  “Tapi justru kearifan lokal masyarakat ini yang perlu dikembangkan dan disepakati bersama terkait dengan apa yang harus dia masyarakat lakukan manakala ada titik-titik ataupun tanda-tanda yang memicu terjadi tanah longsor, banjir dan sebagainya,” katanya.(anjas)