BPBD Lebak Catat Enam Kecamatan Potensi Tsunami

     Lebak, jurnalsumatra.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lebak mencatat enam kecamatan di daerah ini dipetakan berpotensi gempa bumi dan tsunami karena berada di wilayah pertemuan (tumbukan) lempengan Samudera Hindia Australia-Benua Asia.
“Kita setiap tahun melaksanakan kegiatan simulasi tsunami guna memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat pesisir pantai guna mengurangi risiko bencana alam,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak Kaprawi saat menanggapi peringatan tsunami di Aceh 13 tahun lalu di Lebak, Rabu.
Kaprawi mengatakan keenam kecamatan berpotensi gempa bumi dan tsunami itu antara lain Wanasalam, Malingping, Cihara, Panggarangan, Bayah dan Cilograng.
Masyarakat yang tinggal di enam kecamatan itu berhadapan langsung dengan Perairan Samudera Hindia.
Selama ini, Perairan Samudera Hindia terdapat (tumbukan) lempengan Samudera Hindia Australia-Benua Asia.
Karena itu, BPBD menyimpulkan enam kecamatan di pesisir selatan masuk kategori daerah berpotensi gelombang tsunami dan gempa tektonik.
Untuk emngurangi risiko bencana, pihaknya bersama pemerintah provinsi dan pusat mengoptimalkan kegiatan simulasi maupun sosialisasi agar masyarakat di daerah itu memahami tentang pencegahan bencana alam.
Selain itu juga kegiatan tersebut dapat meminimalisasi korban jiwa maupun kerusakan material.

     Sebab, bencana gempa bumi dan tsunami tahun 2004 di Aceh tidak terulang kembali hingga menewaskan 120 ribu orang dan puluhan ribu hilang. Selain itu juga kerusakan material hingga menyebabkan kerugian sekitar Rp45 triliun.
“Kami yakin dengan simulasi dan sosialisasi itu minimal mereka bisa menyelematkan evakuasi diri sendiri secara mandiri,” katanya.
Menurut dia, pemerintah daerah telah sekitar 120 titik jalur evakuasi di enam kecamatan daerah potensi gempa bumi dan tsunami.
Selain itu juga membuat gedung selter di Kecamatan Wanasalam dan bisa menampung ribuan orang.
Begitu juga pihaknya telah melaksanakan pemasangan sirine tsunami dengan melibatkan BMKG.
“Kami minta masyarakat pesisir agar tidak merusak maupun menghilangkan alat sirine itu karena dapat membantu penyelamatan jika terjadi bencana tsunami itu,” katanya menjelaskan.(anjas)

Leave a Reply