BPJS Kesehatan Uji Cobakan Digitalisasi Rujukan JKN-KIS

     Pekanbaru, jurnalsumatra.com – BPJS Kesehatan kini menggencarkan lagi uji coba digitalisasi rujukan Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) fase kedua pada 1-15 September 2018.
“Penerapan digitalisasi rujukan atau rujukan ‘online’ dalam program JKN-KIS untuk memberi kemudahan dan kepastian bagi peserta dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan rujukan,” kata Kepala Humas BPJS Kesehatan, M Iqbal Anas Ma’ruf, dalam keterangan disampaikan Humas BPJS Kesehatan Kedeputian Sumbagteng Jambi, Ahsanul Walidan di Pekanbaru, Riau, Senin.
Menurut Iqbal, uji coba fase pertama rujukan “online” oleh BPJS Kesehatan telah digelar pada 15-31 Agustus 2018 dan banyak hal positif yang diperoleh dari ujicoba selama fase itu.
Keuntungan dari digitalisasi “online” yang terlihat pada fase pertmaa antara lain terkumpulnya data rumah sakit rujukan beserta dokter spesialis dan subspesialis berikut jadwal praktiknya.
“Lalu teredukasinya Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk disiplin menggunakan aplikasi P-Care. Selain itu, Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) untuk senantiasa melengkapi dan memperbarui data kompetensi dan sarana serta mulai dikenalnya konsep rujukan ‘online’ bagi peserta,” katanya.
Iqbal menjelaskan, dari uji coba fase 1 juga diketahui bahwa terdapat 19.937 FKTP yang sudah mengakses aplikasi PCare secara “realtime online” dan siap memasuki fase 2.
Masih ada 2.506 FKTP yang belum dapat mengakses aplikasi Pcare karena kendala jaringan komunikasi dan data (jarkomdat) yang masih dimungkinkan untuk menggunakan rujukan manual, sampai tersedianya jarkomdat di wilayah FKTP tersebut.
“Dari hasil uji coba fase 1, BPJS Kesehatan juga menerima masukan-masukan konstrukstif dari FKTP, FKRTL maupun peserta terhadap beberapa kondisi kasuistik yang menjadi kendala di lapangan,” katanya.

     Misalnya, masih ada data dokter spesialis dan subspesialis yang kurang lengkap, peta rumah sakit tujuan rujukan yang belum sesuai dan rujukan kasus-kasus khusus yang belum seluruhnya terakomodasi dalam sistem.
Kini, memasuki ujicoba fase 2, telah dilakukan berbagai penyempurnaan antara lain pertama kemudahan FKRTL dalam melakukan edit data kompetensi dan sarana yang ada di aplikasi Health Facilities Information System(HFIS).
Lalu, kedua dilakukan perbaikan data mapping FKRTL (Rumah Sakit dan Klinik Utama), yaitu fasilitas kesehatan rujukan mana saja yang bisa dirujuk dari Puskesmas, dokter praktik perorangan dan klinik pratama berdasarkan jarak dan kompetensinya.
Ketiga, adalah penambahan fitur untuk rujukan kasus-kasus tertentu yang membutuhkan perlakuan khusus seperti kanker, hemodialisa, thallasemia, hemofilia, transplantasi hati, transpalantasi ginjal, TB, jiwa dan kusta.
“Melalui penyempurnaan-penyempurnaan tersebut diharapkan dalam fase 2 ini pelaksanaan sistem rujukan ‘online’ ini akan semakin baik dan dirasakan manfaatnya oleh peserta. Pada jangka panjang, digitalisasi rujukan ini akan mendekatkan peserta JKN-KIS dengan fasilitas kesehatan dan mengurangi antrean dalam pelayanan kesehatan,” katanya.
Sebelumnya, per 15 Agustus 2018 lalu BPJS Kesehatan menerapkan uji coba digitalisasi rujukan (rujukan online) yang terbagi menjadi 3 fase sampai dengan 30 September 2018.
Diharapkan per 1 Oktober 2018 seluruh faskes sudah dapat menerapkan rujukan “online” tanpa terkendala.(anjas)

Leave a Reply