Bulog OKU Rugikan Negara Milyaran Rupiah

Baturaja, jurnalsumatra.com – Berdasarkan perhitungan Yopi Sahrudin, Bulog diperkirakan merugikan negara dan masyarakat sebesar Rp 48 miliar rupiah dari kerusakan beras sebanyak 6000 ton tersebut disaat kondisi masyarakat saat ini banyak yang sedang mengalami kekurangan pangan.

“Hitung saja 6000 ton dikali Rp 7.300 sesuai harga beli Bulog, maka akan keluar nominal sebesar 48 milyar lebih, itu uang yang sangat banyak dimana saat ini masih ada warga yang memang belum mampu yang harus dibantu walau hanya dengan beras,”sesalnya. Permasalahan adanya temuan 6000 ton beras rusak hingga tidak layak untuk dikonsumsi masyarakat akhirnya berbuntut panjang. Kepala Bulog Sub drive III OKU,  Deni Laksana Putra terpaksa datang menghadiri panggilan DPRD OKU, jum’at (8/2/2019).

Kebijakan pemerintah pusat tahun 2015 menjadi penyebab rusaknya beras di gudang bulog sub drive III ungkap Deni dihadapan anggota DPRD OKU. Menurutnya pada tahun tersebut peredaran beras tidak seimbang, dikarenakan penyerapan gabah banyak, namun batasan atau pagu dikurangi, walaupun ada juga kesalahan lainnya dalam pengelolaan gudang

“Pada waktu itu kita hanya sebagai eksekutor saja, tahun 2015 kita menyerap 18 juta ton, namun dengan adanya perubahan kebijakan pemerintah pusat lajur beras di OKU Raya menjadi tidak seimbang,” jelas Deni.

Manajemen Bulog dalam pengelolaan gudang kurang maksimal dan tidak sesuai dengan Standar Operasional Bulog diakui Deni dan dirinya akan berupaya untuk memperbaiki sistem tersebut.

” kesalahan dalam pengelolaan gudang kurang maksimal itu saya akui, Kedepan saya akan merubah itu semua, terimakasih,” pengakuannya.

Menjawab pertanyaan Yopi Sahrudin,S.E dari komisi I yang mempertanyakan standar pembelian dan pengadaan raskin di Bulog OKU, Deni menjelaskan jika beras medium atau yang sering disebut raskin ketahanannya hanya 4 bulan saja, setelah itu beras akan turun mutu.

“Sesuai dengan SOP layak tidaknya beras untuk raskin harus memenuhi 4 unsur, pertama kadar airnya hanya 14 persen, kedua broken atau hancur 20 persen, menir 2 persen. Beras tersebut akan diperiksa oleh tim Pemeriksa Kualitas 10 persen dulu, kalau tim merekomendasi beras tersebut layak dibeli maka kita akan masukkan,” jelas Deni.

Berdasarkan penjelasan tersebut Yopi Sahrudin tetap mengangap pihak bulog telah menzolimi masyarakat Indonesia terkhusus masyarakat yang ada di OKU Raya (OKU  ,OKUS dan OKUT).

“Menurut kami tetap saja, Bulog zolim kepada masyarakat, sistem pembelian dan pengadaan tidak lagi menggunakan sistem quality control, jangan-jangan memang ada beras yang tidak bermutu atau tidak sesuai standar masih dibeli,”ungkap Yopi.

[rad]

Leave a Reply