Catatan Kajian Raden Fatah

Nama asli Raden Hasan lebih dikenal dengan nama Raden Fatah atau Sultan Fattah, kelahiran Palembang dari ibu Siu Ban Ci, puteri Campa yang berkebangsaan Cina. Tidak ada petunjuk pasti tentang tahun kelahiran. Ada sumber menyebutkan Raden Fatah lahir pada tahun 1455 (Zuhri, 1981: 242). Disebutkan berbagai sumber, ayahnya adalah raja Majapahit yang dikenal sebagai Brawijaya. Ketika isteri yang tua Brawijaya merasa tidak rela atas kehadirannya di lingkungan istana Majapahit  Siu Ban Ci dicereaikan dan dititipkan kepada Aria Dilah di Palembang dalam keadaan sedang mengandung, dan melahirkan di Palembang.  Setelah melahirkan Hasan, ibunya menikah dengan Aria Dilah dan melahirkan Husin. Keduanya mengalami masa kanak-kanak bersama ibu dan ayahnya dalam asuhan dan suasana keluarga muslim.

Raden Hasan, diharapkan oleh Aria Dillah, kelak di kemudian hari dapat mengantikan dirinya sebagai pejabat Majapahit di Palembang. Tetapi rupanya dirinya sendiri tidak sepakat dengan rencana itu, sehingga secara diam-diam, ia berangkat merantau ke Tanah Jawa bersama adiknya. Belum diperoleh informasi yang pasti, pada usia berapa keduanya berangkat ke Jawa.

Di Jawa, Raden Hasan belajar pada Raden Rahmat di Ampel Denta, sedangkan Raden Husin mengabdi pada kerajaan Majapahit, diangkat sebagai Catandha di Terung. Raden Hasan memperdalam ilmu keagamaannya di lingkungan pesanteren binaan Raden Rahmat. Tokoh ini secara popular dikenal sebagai Sunan Ampel. Setelah dinikahkan dengan puteri Sunan Ampel. Atas petunjuk dari ayah mertuanya itu ia diperkenankan untuk membuat perkampungan muslim di Glagah Wangi. Pada waktu itu, Glagah Wangi termasuk dalam wilayah Jepara. Tempat itu sekarang dikenal sebagai Bintara, dalam wilayah Demak. Perkampungan muslim dengan komunitas kecil itu, tumbuh menjadi perkampungan besar dan berkembang menjadi institusi sosial politik berupa Kadipaten dalam lingkungan Majapahit (era Brawijaya V). Atas  usulan Sunan Ampel, Raden Hasan dikukuhkan sebagai Adipati di Glagahwangi dengan gelar Adipati Bintoro. Inilah satu-satunya Adipati Majapahit yang beragama Islam di Jawa.

Seiring dengan itu, Majapahit mengalami kemerosotan  sampai mengalami keruntuhan sekitar tahun 1478 (tahun Jawa 1400). Ini angka tahun wafat raja Majapahit Kertabumi atau Brawijaya V. (Sumber lokal menyebut angka ini dengan dua cara: Pararaton, “sunya nora yuganing wong”, Babad Tanah Jawa “sirna hilang kertaning bumi”). Setelah Majapahit runtuh, kadipaten Glagahwangi melepaskan diri dari Majapahit dan berkembang menjadi kerajaan selanjutnya memproklamirkan diri sebagai Kasultanan Demak.  Pada tahun 1481, pusat kekuasaan Jawa berpindah ke Demak. Di bawah bimbingan kelompok Ulama, yang dikenal sebagai Walisongo  Raden Fatah  memimpin kasultanan ini. Inilah lembaga yang dikenal sebagai kekuasaan terbesar pertama Islam di Jawa. Pemindahan simbol berupa pilar serta benda pusaka keraton Majapahit, di samping yang terutama kesinambungan genealogi raden Hasan dengan raja Majapahit, menjadi unsur legitimasi bahwa kekuasaan muslim di Demak adalah penerus yang sah kekuasaan Majapahit sebagai kekuasaan yang sudah ada sebelumnya di Jawa.

Perkisahan tentang masa awal kerajaan Islam di Jawa, pada masa sezaman dengan masa kekuasan Raden Fatah didominasi oleh legenda, cerita, dan sejarah lebih banyak terfokus pada para wali; atau pada kondisi suksesi dalam spektrum yang luas meliputi aspek ideologi, politik, dan sosial aspek religi di tanah Jawa. Di antara spektrum yang luas ini, catatan tentang Raden Fatah dalam bentuk sejarah adalah sangat minim. Di antara catatan yang minim itu, ditemukan dirinya disebut ketika masa-masa keruntuhan Majapahit (sebelum 1478), atau pun ketika meresmikan masjid Demak 1479, dan ketika kekuasaan Demak benar-benar menggantikan kekuasaan Majapahit 1481 . Peristiwa lain yang menyebut tentang keberadaan raja adalah dalam kaitannya dengan pasca peristiwa kontroversi Siti Jenar. Ini pun masih perlu verifikasi pula sehingga diketahui pasti apakah raja yang dimaksud adalah Raden Fatah atau yang lainnya. Selain peristiwa ini nama Raden Fatah sangat jarang disebut.

Terasa sekali, sejarah kesultanan Demak seolah mengalami “devaluasi” catatan kehadiran Raden Fatah sendiri di Demak, sebagai pusat kekuasaannya. Bahkan pada peristiwa bantuan Demak dalam penyerangan Portugis di Malaka sekitar 1511 – 1513, nama Raden Fatah tidak disebut. Catatan sejarah pada umumnya menyebutkan bahwa penyerangan itu dipimpin oleh Patih Unus, yang dengan tindakannya itu tokoh ini dikenal sebagai pangeran Sebrang Lor. Namanya Raden Fatah kembali masuk dalam catatan sejarah  pada tahun 1518, yaitu tahun wafat dan sekaligus tahun berakhir masa kekuasaannya. Disebutkan bahwa pada tahun itu tokoh Raden Fatah wafat, dan dimakamkan di Demak. Makam itu terawatt dengan baik di lingkungan kompleks Masjid Agung Demak. Timbul pertanyaan, ke mana ia pada masa-masa yang kosong itu?

Seolah menjawab pertanyaan tentang keberadaan Raden Fatah beberapa tahun sebelum wafatnya, di Sumatera Selatan, tepatnya desa Pagar Batu kabupaten Lahat ditemukan sekelompok peninggalan lama berupa kompleks makam yang dinyatakan penduduk setempat sebagai makam keluarga Raden Fatah. Disebutkan, di tempat ini Raden Fatah pernah bermukim, bersama isterinya yang berkebangsaan Cina yang dikenal dengan sebutan Pinatih Kala Diwe. Selain kompleks makam dan peninggalan fisik lainnya, didapatkan pula cerita tutur tentang anak-cucu keturunan, serta perkembangan diasporanya. Penduduk setempat menunjukkan beberapa makam yang diidentifikasi sebagai pengawal, kerabat dekat, serta prajurit Raden Fatah. Dalam perkembangannya, di antara komunitas itu ada yang diutus membuka perkampungan (babat alas) dan berdakwah di tempat lain di luar wilayah itu, seperti di daerah Lintang (Empat Lawang) serta tempat-tempat lain di sekitarnya.

Informasi yang diperoleh berdasar cerita tutur serta peninggalan fisik berupa makam dan benda-benda lain yang dikaitkan dengan keberadan Raden Fatah ini tentu masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut sehingga ditemukan kebenaran yang sahih, meyakinkan dan lebih utuh. Dari penyelidikan ini dapat diperoleh bahan baru, untuk melengkapi sejarah politik dan perjuangan muslim, serta perkembangan dakwah khususnya di Sumatera Selatan pada masa lalu. Eksplorasi sejarah politik muslim Demak lebih banyak difokuskan pada peristiwa suksesi Demak-Majapahit, kehidupan sekitar Walisongo, penyerangan Malaka (tanpa menyebut Raden Fatah). Pada sisi lain, penyelidikan ini dapat melengkapi informasi tentang jaringan pengembangan agama Islam di Sumatera Selatan, khususnya di wilayah pedalaman.

Sumber

Atmodarminto, R. Babad Demak dalam Tafsir Sosial Politik, (a.b.: Saudi Berlian), Jakarta, Millennium Publisher, 2000

Lembaga Research dan Survei IAIN Walisongo Semarang, Laporan Hasil Proyek Penelitian Bahan-Bahan Sejarah Islam di Jawa Tengah Bagian Utama, Semarang, IAIN Walisongo, 1975

Ecole Française d’ectrême-Orient, Kerajaan Campa, Jakarta: Balai Pustaka, 1981

Olthof, WL., Poenika Serat Babad Tanah Djawi wiwit saking Nabi Adam Doemoegi int Taoen 1647, Netherland: M. Nijhoff – s’Gravenhage, 1941

Pararaton, (a.b.: Ki J. Padmapuspita), Yogyakarta, Tamansiswa, 1966

Pigeaud, Dr. TH. G. TH., dan Dr. HJ de Graaf, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, (a.b.: Tim Grafiti Pers), Jakarta: Grafiti Pers, 1989

Wijisaksono, Mengislamkan Tanah Jawa, (ed.: Saudi Berlian), Bandung, Mizan, 1995

Zuhri, Saifuddin, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Bandung: Almaarif, 1981

Leave a Reply