Cerita “Wong Palembang” Saat Asian Games 2018

Palembang, jurnalsumatra.com – Hangatnya mentari pagi menyinari Kota Palembang yang mulai sibuk menggeliat “bangun” menyambut hari dengan beragam aktivitas manusia-manusianya yang penuh warna serta pada pendatang yang sengaja hadir untuk satu perhelatan akbar Asian Games.
Mulai dari hiruk-pikuk pasar tradisional yang membentang dari Jalan Lintas Timur Sumatera di bagian utara kota hingga ke bibir Sungai Musi bersama aktivitas bongkar muatnya dan berbagai kegiatan di sekolah, pasar, gedung-gedung dan berbagai tempat lainnya hingga ke penjuru-penjuru kota.
Belum lagi aktivitas masyarakat di dalam rumah-rumah mereka di jalan besar, jalan kecil, gang-gang di pusat kota yang ada di bagian Ilir hingga ke Kompleks Olahraga Jakabaring Sport City di Kawasan Ulu yang ada di selatan kota. Itulah aktivitas “Wong Plembang” yang bermakna masyarakat Kota Palembang.
Dan dengan adanya perhelatan pesta olahraga terakbar di Asia pada Agustus hingga awal September 2018, menambah warna baru dalam kehidupan para manusia-manusia yang ada di kota yang berjuluk “Venice of The East” atau Venesia dari Timur di dunia barat ini.    Pengemudi sewa mobil daring Erick Kurniawan (kanan) berswafoto bersama salah seorang peliput Asian Games. (Istimewa/Erick Kurniawan)
Pengalaman Hidup
Asian Games 2018 yang merupakan kedua kalinya dihelat di Indonesia setelah yang pertama pada tahun 1962, dapat dipastikan menjadi pengalaman yang belum tentu didapatkan kembali pada masa-masa mendatang selama para manusia ini hidup, hingga tentu kesempatan ini tak akan dilepaskan begitu saja.
Termasuk juga bagi salah satu pengemudi sewa mobil dalam jaringan (daring) aplikasi Grab yang menjadi salah satu pendukung Asian Games 2018, Erick Kurniawan, yang memiliki cara unik untuk “mendapatkan momen” Asian Games-nya.
Dengan profesinya sebagai pengemudi daring, secara otomatis pria keturunan tionghoa tersebut memiliki banyak cerita pengalaman bertemu berbagai macam orang selama bekerja, termasuk ketika Asian Games 2018 ini.
Erick yang ditemui saat dalam perjalanan menuju Kompleks Olahraga Jakabaring, Palembang, mengaku dirinya kerap meminta “kenang-kenangan” pada atlet, ofisial, hingga para peliput Asian Games yang menumpang di mobilnya.
Bukan pin, magnet kulkas atau cendera mata khas negara atau daerah asal penumpangnya yang dia minta, namun adalah “berswafoto” dengannya menggunakan kamera ponsel yang digunakannya untuk transaksi sewa mobil daring yang dijalaninya.
“Siapapun orang yang terlibat Asian Games naik mobil saya, pasti saya minta foto untuk kenang-kenangan Asian Games,” kata Erick penuh semangat.
Bukan hanya pengguna dari Indonesia saja yang dia ajak untuk berswafoto, namun juga dari negara-negara asing yang terlibat dalam Asian Games 2018 seperti Korea Selatan, Jepang, Singapura dan Chinese Taipei dengan berbagai kesan yang didapatkannya.
“Yang susah Korea dan Jepang tuh, saya gak ngerti bahasanya, langsung deh pakai bahasa Inggris saja sedikit-sedikit. Kalau yang dari Singapura dan Taiwan saya masih nyambung ngobrolnya karena saya masih menguasai bahasa mandarin di mana mereka juga banyak yang bisa, namun saya belum menemukan keluarga saya di sini,” ujar Erick sambil tersenyum.
Kendati Erick -yang mengaku di keluarganya berusaha melestarikan bahasa mandarin- menyatakan bisa mendapatkan kesan tersendiri dengan mengajak para penumpangnya berswafoto, dia berharap Asian Games juga memberi harapan pada orang lainnya di Palembang.

Terlebih ketika pesta penutupan Asian Games 2018 sebagai pengganti pesta pembukaan yang di Palembang tertutup untuk umum.
“Harapannya di penutupan nanti bisa lebih baik lah dari pembukaan. Biar bisa dirasakan juga oleh masyarakat, karena kapan lagi kan event seperti ini terjadi lagi,” ujar Erick menambahkan.
Lain Erick, lain lagi dengan pengalaman seorang pengemudi mobil golf yang digunakan sebagai alat transportasi di dalam kompleks Jakabaring, yang ditemui saat bertugas mengantarkan awak media ke arena pertandingan boling.
Dengan gayanya yang kekinian sebagai pengemudi mobil golf serta keramahannya, Ronie bercerita pengalamannya saat harus mengantarkan atlet dan ofisial dari negara-negara peserta Asian Games 2018 yang menurutnya berbeda karakter.
“Kata orang atlet dari Chinese Taipei itu pelit, tapi bagi saya tidak… Bukan kasih saya uang atau tip, saya tak mengharapkan itu, tapi mereka kerap memberi saya pin, jersey atau cendera mata lainnya, bahkan ada yang bertukar nomor telfon,” kata pemuda berusia 23 tahun tersebut.
Ya, nomor telfon, kata itu ditegaskan Ronie yang sehari-hari bekerja di kantor konstruksi rintisan orang tuanya tersebut saat menceritakan pengalamannya mengantarkan atlet-atlet putri peserta Asian Games 2018 dengan penuh semangat.
“Ya tergantung cara pendekatan dan komunikasi kita saja bang sama mereka seperti apa, kan budaya kita juga berbeda,” ujar Ronie yang mengaku komunikasinya berlanjut lewat media sosial instagram seiring banyak kontingen atlet yang pulang ke negaranya.
Dengan keseharian Ronie yang membawa mobil golf berkeliling Jakabaring dengan membawa orang-orang yang berhak -dengan dilengkapi kartu akreditasi Asian Games 2018 dari Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC)- selepas dia pulang bekerja, diakui Ronie sangat melelahkan.
Namun, Ronie menegaskan dia tidak mengharapkan imbalan atas yang dilakukannya sebagai bagian dari mereka yang membantu suksesnya perhelatan Asian Games 2018 ini.
“Ya saya dengar juga ada dikasih bonus lah, tapi saya tidak mengharapkan berapa uang yang akan dibayarkan, karena jika begitu kita kerja tidak pakai hati akhirnya tidak akan baik hasilnya,” kata Ronie.
“Yang utama bagi saya, adalah saya yang suka bertemu orang baru, berkomunikasi dan berinteraksi, plus aku orang Palembang asli saya ingin berpartisipasi mensukseskan Asian Games 2018 di kota saya sendiri dengan cara beri kesan pada semua tamu yang hadir di Palembang,” kata Ronie menambahkan.
Pemberdayaan
Asian Games 2018 yang memainkan 13 cabang olahraga ini juga, ternyata memiliki kesan tersendiri bagi pengayuh kendaraan bebas polusi, becak yang banyak terdapat di kota berjuluk Bumi Sriwijaya ini.

Dengan becak yang dihiasi oleh atribut Asian Games 2018, para tukang becak memang ada yang diberdayakan oleh INASGOC, sebagai transportasi alternatif bagi mereka yang memiliki akreditasi Asian Games 2018, di sekitaran bundaran Jakabaring Sport City (JSC) dan Dekranasda Jakabaring yang beroperasi dari pukul 07:00-16:00 WIB.
Dengan ikut dilibatkan tersebut, para tukang becak ini akhirnya juga memiliki kesannya sendiri pada perhelatan olahraga akbar tingkat Asia edisi kedua di Indonesia ini. Tak terkecuali Zamroni (27) yang mengaku awalnya ikut karena tertarik dengan tawaran bayaran per-hari.
“Namun lama-kelamaan saya juga jadi semangat untuk mensukseskan Asian Games yang baru pertama di Palembang ini,” kata Zamroni sambil mengayuh pedal becak-nya menuju gedung Sriwijaya Promotion Centre.
Kendati demikian, Zamroni mengatakan dirinya dan para tukang becak yang dilibatkan tersebut kerap menemui kendala saat ada orang asing yang menumpang pada becaknya, terutama ketika harus berkomunikasi.
“Kami sedikit sekali bisa bahasa asing, lama kami harus dengar dan perhatikan hingga harus gunakan tangan saja isyaratnya, karena kan biasanya mereka meminta antar hingga ke gerbang utama Jakabaring saja,” ucap dia.
Zamroni menekankan bahwa angkutan becak yang rencana awalnya akan digunakan sebagai transportasi pendukung di dalam kawasan Jakabaring selama Asian Games 2018 ini, tidak memungut bayaran pada siapapun terutama atlet, ofisial dan media peliput Asian Games.
Kendati tidak menarik bayaran pada penumpangnya, bedak-becak ini menerima upah sekitar Rp200 ribu dalam satu hari dengan masa kerja satu hari, bergiliran dengan tukang becak lainnya untuk menjadi kendaraan alternatif Asian Games 2018.
“Ya lumayan sebagai uang tambahan walau belum dibayar. Harapannya dengan bantuan kecil kami, Asian Games 2018 ini bisa sukses dan menjadi yang baik untuk Indonesia serta masyarakatnya juga lebih sejahtera,” ucapnya.
Dengan hadirnya Asian Games di Kota Palembang untuk pertama kalinya dan merupakan yang kedua kalinya di Indonesia ini, tahun 2018 ini sedikit banyak akan memberi warna pada kehidupan atau minimal menjadi cerita “Wong Plembang” di masa yang akan datang pada anak cucunya.
Pasalnya kesempatan menjadi penyelenggara pesta olahraga sebesar ini, akan menjadi pengalaman yang sangat jarang dan belum tentu didapatkan kembali pada masa-masa mendatang selama manusia-manusia di Venice of the East ini hidup.(anjas)

Leave a Reply