DA Diduga Kembali Rusak PPK PTM Selero

Lahat, jurnalsumatra.com – Palang pintu barget parkir keluar PTM Selero Lahat, pada Ahad (12/07/2020) pukul 09.00 WIB diduga dirusak oleh oknum Ketua Persatuan Pedagang Pasar Tradisional Modern Selero (PPPTMS) Lahat, DA dan CS.

Peristiwa penggerusakan tersebut, lantaran disinyalir kurang puasnya Persatuan Pedagang Pasar Tradisional Modern Selero (PPPTMS) DA dan Pedagang Pasar PTM terhadap Pemerintahan Daerah (Pemkab) Kabupaten Lahat, tanggal (10/7/2020) terkait masih ditariknya retribusi parkir.

Terutama, para pengunjung dan bertentangan dalam surat yang dilayangkan Pemkab Lahat dengan Nomor :900/73/Bapenda/III/2020, bahwa yang free selama 1 Minggu ditengah Covid-19, hanya tarif ritribusi masuk parkir pemilik Ruko, Los, dan Kios yang ada.

Informasi yang berhasil dihimpung dilapangan, berdasarkan kronologis kejadian pada Ahad (12/07/2020) sekitar pukul 09.00 WIB diduga Oknum DA bersama CS menuju pintu keluar barget PTM Selero Lahat, datang becak dengan membawa barang hendak keluar.

Lantas, terlihat dalam CCTV serta pengakuan saksi mata yang ada dilokasi kejadian, bahwa terduga DA dan CS ikut mendorong becak secara paksa, mengakibatkan palang pintu barket pintu keluar PTM Selero Lahat patah.

Akibat patah dan rusaknya palang pintu barket pintu keluar PTM Selero Lahat, menyebabkan pihak penggelola PTM Selero Lahat tidak bisa mengoperasikan palang pintu tersebut.

“Dari kejadian yang ada, mengakibatkan palang pintu barket pintu keluar PTM Selero Lahat menggalami kerusakan dan saat ini tidak bisa beroperasional lagi. Karena, palang pintu keluar PTM tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” ungkap kuasa hukum PTM Selero Lahat Firnanda SH CLA, dimintak tanggapannya pada Ahad (12/07/2020).

Atas peristiwa itu, dijelaskan Firnanda, pihak penggelola PTM Selero Lahat mengalami kerugian puluhan sampai ratusan juta rupiah. Kerusakan palang pintu barket pintu keluar PTM Selero Lahat.

“Mungkin, tapi ini baru dugaan kami atas ketidak puasan DA terhadap dari hasil keputusan surat dari pihak Bapenda Lahat, bahwa pihak PTM Selero Lahat untuk para pedagang, kios, dan ruko dibebaskan biaya parkir, terkecuali para pengunjung. Namun, DA tidak percaya dari hasil itu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dari surat yang dikeluarkan Bapenda Lahat, ada timbal baliknya terhadap penggelola yakni, membebaskan biaya parkir untuk para Pedagang, pemilik Kios, dan pemilik Ruko, terkecuali para pengunjung. lantas surat keputusan itu disampaikan kepada DA. Akan tetapi, DA ngotot dan tidak mempercayai surat keputusan yang ada.

“Ya, kami pikir dengan tidak diterimanya oleh DA hasil surat dari Bapenda tersebut. Lalu, kami tinggalkan dan terjadilah sedikit kemacetan. Tak lama kemudian, seorang abang becak ingin melintas, dikarenakan palang pintu barket tertutup, lalu, DA dan lainnya membantu dengan menarik becak tersebut. Sehinggga, palang pintu barket pintu keluar PTM Selero patah,” tambahnya.

Merasa dirugikan, dikatakan Firnanda, pihaknya melaporkan DA ke SPK Polres Lahat, atas dugaan telah melakukan tindak pidana pengerusakan terhadap Palang Pintu Burket, Pintu Keluar PTM Selero Lahat.

“Sudah kita laporkan ke Polres Lahat, untuk barang bukti (BB) berupa palang pintu barket pintu keluar PTM Selero yang patah dan melihat dari CCTV, termasuk saksi mata yang ada dilokasi sudah dimintai keterangan oleh penyidik Polres Lahat,” pungkas Firnanda.

Sementara, DA ketika dikonfirmasi membantah terkait tuduhan telah melakukan pengerusakan Palang Pintu Burket, Pintu Keluar PTM Selero Lahat. “Saat itu, karena dilokasi jalan macet dan ada tukang becak melintas dipinggir. dibantulah kawan kawan, dan saya bantu narik sedikit. tapi, tanpa sengaja menyenggol Palang yang dimaksud,” kilah DA.

Diungkapkannya, dari kejadian yang ada, serta mengakui bahwa Palang Pintu Burket, Pintu Keluar PTM Selero Lahat dan Palang itu memang ada yang rusak, serta sudah ada lakbanan. Jadi dapat disimpulkan ada tiga poin kalau mau dituduh kesalahan, Palang Pintu, Tukang Becak, atau Penolong.

“Terus terang ini bukan masalah pribadi. harga diri dan marwahnya Pemkab Lahat, masa Pasar Modern dimiliki oleh orang Pribadi. Padahal, jelas hasil keputu Pemerintah selama 1 Minggu kedepan pihak penggelola PTM Selero Lahat, tidak diperkenankan narik retribusi parkir, tapi, kenyataan dilapangan tetap dilakukan itukan namanya Pungli,” ucap DA.

DA mengaku, karena semua itu hak rakyat dan kembali kerakyat. Kalau memang ada yang merasa memiliki atau penggelola ada dua tahapan untuk ikuti lelang serta mengikuti aturan. atau memakai Undang Undang (UU) swakelola LKPP Pasal 4 ada juga pemberkasannya.

“Artinya, tetap milik Negara harus memenuhi dua poin tersebut. kalau ada yang mengaku ngaku sudah penjajahan dan pembodohan. Perjanjian kontrak PTM tahun 2005 silam. Gugur ada dua seban, pihak pertama gugur demi hukum dikala Bupati masa jabatan. pihak kedua pemilik hak bumi bangunan, tapi, tak kala pelepasan hak, bukan lagi miliknya dan kembali kerakyat serta Pemerintah,” imbuhnya. seraya mengatakan, terkait kepentingan orang banyak tidak boleh dimonopoli oleh pribadi itu milik Negara. Kenapa dinamakan Pasum artinya Pasilitas Umum, kita tetap akan berjuang untuk rakyat.

Ketika disinggung wartawan, terkait laporan ke-Polisi yang dilayangkan oleh Kuasa Hukum PTM Selero Lahat atas dugaan tindak pidana penggerusakan, DA dengan santai menjawab tidak mengetahui.

“Saya tidak tau, silakan saja tidak apa apa kok. Silakan penegak hukum, kalau tidak terbukti nanti. Saya akan lapor balik juga rekaman Vidio, saya juga minta kepada Kepolisian agar dapat lebih jelih dan lebih berhati hati dalam menerima laporan. Jika tidak benar, maka akan saya laporkan,” tukas DA. (Din)