Damkar Bojonegoro Minta Masyarakat Waspadai Ancaman Kebakaran

    Bojonegoro, jurnalsumatra.com – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro, JawaTimur, meminta masyarakat mewaspadai ancaman kebakaran pemukiman, hutan dan lahan (Karhutla) disebabkan pengaruh musim kemarau yang memicu kejadian kebakaran.
“Ada kencenderungan kejadian kebakaran meningkat pada Juli 2018 dibandingkan Juni karena pengaruh kemarau yang kering,” kata Kepala Pemadaman Dinas Damkar Bojonegoro, Sukirno, di Bojonegoro, Rabu.
Dengan kemarau semakin kering, lanjut dia, potensi kejadian kebakaran akan meningkat, karena faktor panas, bahan yang kering juga suhu panas. Ancaman kejadian kebakaran tidak hanya pemukiman, tetapi juga hutan dan lahan.
“Selama kemarau ini sudah tiga kali terjadi kebakaran hutan. Kebakaran mudah terjadi apabila ada pemicunya seperti suhu udara panas, dan hubungan arus pendek listrik,” ujarnya.
Ia menyebutkan telah terjadi kebakaran sebuah rumah di desa Trojalu, kecamatan Baureno, sebuah gudang dan rumah di desa Padangan, kecamatan Padangan pada Selasa (10/7).
Di desa Trojalu, kecamata Baureno,  upaya memadamkan kebakaran rumah milik Maksum (50), dilakukan dengan mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran dilengkapi lima personel.

    Sedangkan, upaya memadamkan kebakaran sebuah gudang dan rumah milik Agus Mulyanto (43) di desa Padangan, kecamatan Padangan, dilakukan dengan mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran dilengkapi lima personel.
“Tiga kejadian kebakaran pemukiman dan gudang penyebabnya hubungan pendek arus listrik PLN. Kerugian tiga kali kebakaran sekitar Rp35 juta,” kata Sukirno.
Sebelum itu, tim Damkar daerah setempat juga ikut memadamkan  kebakaran di Plasa Cepu, Jawa Tengah, pada 6 Juli 2018.
Dalam kejadian itu, tim Damkar mengirimkan tiga unit mobil pemadam kebakaran dilengkapi tujuh personel ikut memadamkan kebakaran Plasa Cepu, bersama dengan tim pemadam kebakaran dari daerah setempat.
Menurut dia, Damkar sebelum ini sudah melakukan berbagai usaha untuk mencegah kebakaran pemukiman, hutan dan lahan dengan melakukan sosialisasi kepada berbagai elemen masyarakat.
Tidak hanya itu, kata dia, pada Juli 2018 tim Damkar akan membentuk masyarakat peduli api di masing-masing desa satu warga yang akan memperoleh pelatihan mengatasi kebakaran sejak awal.
Pada prinsipnya, kalau ada masyarakat peduli api, maka tugasnya kalau ada kejadian kebakaran di desanya, maka dia  mengetahui yang harus dikerjakan untuk menghambat perkembangan api.
“Kalau kebakaran bisa dihambat,  maka pemadaman yang dilakukan oleh tim Damkar akan lebih cepat dan kebakaran tidak meluas.Harapan kami warga yang sudah memperoleh pelatihan menyosialisasikan upaya mengantisipasi kejadian kebakaran kepada warga lainnya,” kata Sukirno.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − 14 =