Dandim Banyumas: Ideologi Pancasila Bersumber Dari Nilai Luhur Bangsa

Purwokerto, jurnalsumatra.com – Ideologi Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai luhur kepribadian bangsa harus tetap dipertahankan dan tidak boleh digantikan dengan yang lain, kata Komandan Komando Distrik Militer 0701/Banyumas Letnan Kolonel Infanteri Candra.

  “Jadi yang pertama kita melihat bahwa dengan diputarnya film Pengkhianatan G30S/PKI ini sebenarnya kita mengingatkan kita dan juga generasi muda sekarang bahwa dahulu terjadi pemberontakan yang ingin mengganti ideologi Pancasila,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin malam.

  Dandim mengatakan hal tersebut kepada wartawan di sela kegiatan nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI yang dilanjutkan dengan Seminar Kebangsaan “Mewaspadai Bahaya Neo Komunis” yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP.

  Menurut dia, hal itu tentu saja merupakan fakta dari pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 dan 1965.

  Bahkan dalam pemberontakan yang terjadi pada tahun 1965, terdapat enam perwira tinggi dan satu perwira TNI yang dibunuh tokoh-tokoh PKI dan selanjutnya mereka berupa mengganti ideologi Pancasila.

  “Kita ketahui bahwa ideologi Pancasila ini bersumber dari nilai-nilai luhur kepribadian bangsa. Tentu saja komunis ini tidak cocok ataupun tidak layak untuk hidup di Indonesia. Jangan sampai bahaya laten ini masih ada ataupun bisa nanti generasi muda kita tidak mewaspadai hal-hal ini, kita tidak ingin terjadi,” katanya.

  Lebih lanjut, dia mengatakan, generasi muda sekarang tinggal menikmati atau sebagai penikmat karena pahlawan sudah berjuang dengan darah dan air mata sampai dengan merdeka serta menjadi maju sebagai bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui dunia.

  “Sebagai penikmat, apa yang harus kita perbuat? Kita bisa melihat masa lalu sebagai pembelajaran sehingga di masa depan, kita dapat menjadi bangsa yang lebih kuat dan siap untuk menghadapi tantangan, salah satunya adalah bahaya laten komunis,” katanya.

  Dandim mengatakan, TNI tentu saja mewaspadai semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari semua aspek, tidak hanya komunis.

  Menurut dia, saat sekarang juga banyak perang dengan berbagai cara yang digunakan seperti perang asimetris dan perang proksi

  “Ini kita memberikan pemahaman kepada generasi-generasi muda sekarang. Bukan hanya secara fisik perang yang dilakukan sekarang dengan menggunakan senjata, dengan peralatan-peralatan, tetapi melalui aspek-aspek yang lain juga,” katanya.

  Ia mengatakan, jika perang-perang tersebut mengena, yang paling berpengaruh adalah karakter bangsa. Apabila karakter bangsa Indonesia sudah hilang atau diubah sehingga tidak sesuai lagi dengan idelogi Pancasila, bangsa Indonesia akan lebih mudah dicerai berai.

  “Kita ini bangsa yang majemuk, bangsa yang sangat majemuk sekali. Kita punya 742 suku bangsa, kemudian 1.340 bahasa, tentu saja kemajemukan itu bukan sesuatu yang melemahkan kita sebagai bangsa Indonesia. Tetapi justru dengan kemajemukan inilah yang menguatkan kita sebagai bangsa Indonesia,” kata Dandim.

  Sementara itu, Wakil Rektor III UMP Ahmad Darmawan mengatakan, jika saat sekarang PKI sudah tidak ada, namun ideologi komunis tidak bisa padam sehingga pihaknya sebagai anak bangsa berupaya untuk mengingatkan generasi milenial untuk memahami bahwa bangsa Indonesia pernah dicederai dan dikhianati oleh Partai Komunis Indonesia.

  Dia mengaku prihatin karena saat sekarang ada berbagai kemungkinan terkait dengan bangkitnya ideologi komunis di Indonesia.

  “Kalau kita bisa melihat dan sangat jelas tanda-tandanya hampir sama dengan kondisi pada tahun 1965, PKI itu musuhnya adalah Islam dan ini terbukti banyak para ulama yang dipersekusi dan sebagainya. Islam sepertinya akan dibenturkan dengan kekuatan-kekuatan lain dan ini menjadi keprihatinan kami, akademisi di Universitas Muhammadiyah Purwokerto terkait dengan bangkitnya neo komunisme,” katanya.

  Ia mengatakan, upaya untuk mencegah agar hal itu terjadi, generasi muda harus paham bahwa sejarah kelam tersebut jangan sampai terulang lagi.

  Apapun yang terjadi sejak penjajahan hingga terjadinya penghiatan PKI, kata dia, motifnya adalah permasalahan ekonomi.

  “Neo komunis sekarang motifnya adalah motif ekonomi. Kita paham bahwa bangsa ini adalah bangsa yang gemah ripah loh jinawi, apa pun ada di sini sehingga menjadi daya tarik bagi bangsa lain, mungkin bahasa akademisnya kita sedang dikepung dari sisi kemampuan kita di bidang ekonomi,” katanya.

  Sebagai ekonom, dia menduga motif paham komunis sebenarnya berujung pada masalah ekonomi, karena itu yang bisa membentengi permasalahan tersebut adalah generasi muda.

  “TNI, rakyat, dan anak bangsa ini memang harus bersatu menghadapi kekuatan yang maha dahsyat, ideologis yang sangat membahayakan bangsa ini,” katanya. (anjas)