Demi Keuntungan Pusri Hancurkan Situs Sriwijaya

Palembang, jurnalsumatra.com – Demi mengejar keuntungan Pt Pusri Palembang tega menghacurkan situs sejarah Kerajaan Sriwijaya. Penghancuran itu dimulai dengan rencana pihak PT Pusri yang akan membuat lokasi pembuangan limbah di lokasi penemuan situs Kerajaan Sriwijaya yaitu prasasti Telaga Batu yang berada di green barrier (sabuk hijau) wilayah PT Pusri, kawasan Kelurahan 3 Ilir Palembang mendapat sorotan dan membuat miris sejumlah pihak di kota Palembang.

“Kami mendapatkan informasi dari Komunitas Kompaks, bahwa ada dugaan , temuan atau pemindahan terkait cagar budaya yang terjadi di kawasan green barrier PT Pusri, itulah besok kami berangkat melakukan pemeriksaan, saya dan pak Rasyid (Ketua Forum Kuncen Kota Palembang ) yang diperbolehkan masuk,” kata Penggiat budaya, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI, Wanda Lesmana M.Pd dalam diskusi tentang rencana pihak PT Pusri yang rencananya akan membuat lokasi pembuangan limbah di lokasi penemuan situs Kerajaan Sriwijaya yaitu prasasti Telaga Batu lorong Telaga Biru yang berada di green barrier (sabuk hijau) wilayah PT Pusri, kawasan Kelurahan 3 Ilir Palembang, Rabu (15/5/2019) di GH Corner, Palembang.

Menurut Wanda , saat melakukan pemeriksaan kedalam memang ada proses penimbunan yang dilakukan pihak PT Pusri yang terjadi dikawasan pembuangan akhir PT Pusri.

“ Itu kira-kira di sebelah kirinya Green Barrier, kalau dilihat dari denah, posisi Telaga Batu dan Telaga Biru itu berada di posisi yang berbeda kalau Telaga Batu posisinya itu diluar Green Barrier yang dugaan sekarang iyalah yang sedang proses timbun menimbun , sedangkan Telaga Biru itu dipercaya masyarakat disana didalam Green Barrier ada seperti mata air dalam Green Barrier tidak diapa- apakan tapi kawasan Telaga Batu itu sudah diproses penimbunan katanya dibuat untuk jalan terusan , kemarin kami lihat sudah separuhnya bekerja,” katanya.

Secara pribadi , Wanda mengaku sudah menyampaikan hal tersebut Dinas kebudayaan kota Palembang. “ Setahu kami dalam pecan lalu sudah membuat surat dari Dinas Kebudayaan kepada PT Pusri terkait surat yang dikirimkan oleh Yayasan Kesultanan Palembang Darussalam menindaklanjuti itu,” katanya.

Prasasti Telagabatu adalah Prasasti Sriwijaya yang isinya adalah persumpahan bagi para pejabat Sriwijaya. Di sini disebutkan nama-nama jabatan terlengkap. Prasasti ini berada di kawasan Pabrik Pupuk Sriwijaya (Pusri).

Namun pada kenyataan lokasi prasasti tersebut setelah didatang oleh tim pemerhati sejarah, ada dugaan akan digusur oleh PT Pusri dan akan dijadikan tempat pembuangan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Sedangkan Pemerhati Sejarah dan Kebudayaan Sumsel, Vebri Al Lintani mengatakan, sudah mendapatkan kabar tiga bulan terakhir , lokasi tersebut dijadikan lokasi pembuangan B3 oleh PT Pusri.

“ Kabar itu kita dapat lalu kita merespon itu dengan mendatangi itu, ada beberapa kawan melihat lokasi itu , antaranya Pak Wanda dan Pak Rasyid, udah kelihatan ada penimbunan , tapi kita belum tahu juga apakah memang itu menimbun tempat itu tapi menurut perkiraan mungkin menimbun tempat itu, karena itu kita mau jelas dari Pusri apa yang dilakukan oleh Pusri untuk Telaga Batu itu ,” katanya.

Menurutnya kalau lokasi tersebut dijadikan lokasi pembuangan limbah tidak tepat karena lokasi tersebut adalah tempat prasasti penting dari Kerajaan Sriwijaya yaitu prasasti Telaga Batu , Prasasti Telaga batu ini bentuknya seperti Ular Kobra dan isinya itu persumpahan pejabat ti hingga pejabat rendah di Sriwijaya, lalu ada tempat pancuran untuk bersumpah para pejabat Sriwijaya agar berkhianat dengan raja Sriwijaya.

Karena lokasi tersebut sangat penting menurut Ketua Dewan Kesenian Palembang harus dilindungi dan dalam aspek kebudayaan salah satu bukti dan sebagai legitimasi kalau Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang salah satunya Prasasti Telaga Batu .

“ Kita berharap lokasi tersebut di lindungi dan di pugar , kalau bisa dikembalikan seperti dulu prasasti Telaga Batu atau setidaknya reflikanya dan bukan tidak mungkin tempat itu akan menjadi objek wisata berbasis kebudayaan karena itu sangat menarik, karena seluruh pejabat Kerajaan Sriwijaya datang ke lokasi Prasasti Telaga Batu untuk bersumpah,” katanya.

Pihaknya sudah mengambil lnisiatif namun karena tidak ada respon untuk melakukan dialog baik-baik pihaknya permasalahan ini secara terbuka karena yang mencintai sejarah Sriwijaya banyak kelompok-kelompok lain yang mungkin kabarnya belum tahu.

“ Karena itu kita berdiskusi hari ini dan banyak hadir seperti Prof Duski dari UIN Raden Fatah, ada komunitas Kompaks, Yayasan Kesultanan Palembang Darussalam, seniman, dan sebagainya,” katanya.

Sultan Mahmud Badaruddin IV Djaya Wikrama bin Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja, RM Fauwaz Diradja, SH. Mkn mengatakan dalam menyikapi persoalan yang terjadi pada lokasi Prasasti Telaga Batu harus lebih cermat dan melakukan observasi dulu.

“Jadi kita akan buat observasi dulu, apakah isu-isu yang dinyatakan masyarakat sekitar benar atau tidak .Makanya kita harus mendalami ketempat kesana, dikaji jika benar harus ditangguhkan dan mengambil langkah-langkah untuk menjaga kelestarian tempat-tempat bersejarah,” katanya

Menurutnya lokasi Prasasti Telaga Batu adalah tempat yang sangkral dan wajib untuk dilestarikan, jangan sampai cagar budaya hilang karena kepentingan segelintir orang.

“ Salah satu bukti keberadaan kerajaan Sriwijaya di Palembang adaanya prasati Telaga Batu, jangan sampai dengan hilangnya prasasti telaga batu bisa menghilangkan pemaknaan kerajaan Sriwijaya tidak di Palembang lagi karena bukti-buktinya sudah hilang, karena bukan hanya Palembang mengaku Sriwijaya, Jambipun sekarang ingin mengakui supaya Sriwijaya dari Jambi .” katanya.

Akademisi dari UIN Raden Fatah Palembang Prof Duski menilai Palembang ada pewaris Kerajaan Sriwijaya, oleh karena itu kita berkewajiban penuh untuk menjaga, memelihara , pelestarian cagar budaya, cagar budaya peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.

“ Kita barangkali tidak mau menjadi orang yang memikul dosa, karena saya pikir dimasa kita ini persoalan cagar budaya , peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang ini hampir punah, oleh karena itukita tahu ingin menjadi orang yang mikul dosa sejarah tersebut, oleh karena itu kita sama-sama membantu pihak yang berwenang untuk melestarikan dan merehab sejarah-sejarah dari Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang,” katanya.

Sementara itu pengamat sejarah sriwijaya Husni Thamrin berkomentar dengan mengatakan, dulu masyarakat Palembang lengah sehingga PT. PUSRI  dapat berdiri sekarang dilokasi Kraton Kuto Gawang.  Maka hilanglah banyak situs sejarah Palembang disana.

Di wilayah Pusri juga ditemukan  prasasti telaga batu dan beberapa benda peninggalan sriwijaya lainnya. Bila ditemukan 2 atau lebih benda bersejarah. Maka daerah tersebut sudah masuk dalam kawasan cagar budaya.. apalagi diperkirakan prof coedes  daerah prasaati telaga tsb sbagai pusat kotaraja sriwijaya.selain itu Karena  daerah tsb banyak  berkumpul benda

Kawasan Cagar budaya dijelaskan pasal 10 UU No.11 Thn 2010, bila pembangunan wilayah penemuan telaga batu dibongkar dan di bangun Pusri. Maka pasti sisa peninggalan sejarah yg blm tergali akan rusak dan hancur

Karena wilayah tersebut masuk dalam wilayah Pusri.maka diharapkan kesadaran Pusri untuk menunda pembangunan wiyaha itu.

Agar memiliki dasar hukum sebagai cagar budaya. Maka perlu ditetapkan tempat tsb sbagi kawasan cagar budaya oleh pemerintah.

Bila Pusri tetap melakukan pembangunan yang akan mengakibatkan hancurnya situs  Telaga Batu. Artinya Pusri telah dua kali  melakukan tindakan yang berefek dapat  merusak kawasan budaya peninggalan Palembang juga peninggalan Sriwijaya.(***)