Di Muba, Pengunjung Pesta Rakyat Rata-Rata Masuk Angin

Muba, Sumsel, jurnalsumatra.com – Usai pesta malam, bukan rahasia umum lagi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) sekarang ini banyak ditemukan kotak (bekas) minyak angin Cap  Kapak.

Namun barang tersebut masih dalam tanda tanya, apa memang pengunjung pesta rata-rata masuk angin atau  minyak Angin Cap Kapak dijadikan doping oleh pecandu obat-obat terlarang. Pasalnya dilokasi pesta juga ditemukan kantong plastic bening yang diduga bekas bungkus narkotika.

Seperti di Desa Rimba Ukur (C-5) Kecamatan Sekayu belum lama ini, se-usai melaksanakan resepsi pernikahan dengan diteruskan malam rama-tamah. Warga yang sedang membersihkan kotoran sampah menemukan ratusan kotak (bekas) minyak angin Cap Kapak berserakan dilokasi pesta. Selain itu warga juga menemukan plastic bening dan botol minuman keras (miras).

“Kok banyak sekali ya, belum dikumpulkan semua sampah bekas minyak angin Cap Kapak sudah banyak. Jangan-jangan pengunjung pesta rata-rata masuk angin atau barang ini telah disalah gunakan.” Kata salah seorang waria perias pengantin sembari melihat tumpukan sampah yang berserakan.

Berdasarkan pantauan Jurnal Sumatra.com, larangan tentang hiburan orgen tunggal/music dimalam hari, sempat dibahas oleh Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dalam rapat paripurna masa persidangan III di gedung DPRD Muba, pada tahun 2016 lalu.

Namun sejauh ini belum ada kejelasan, diduga Perda yang akan dibentuk itu menjadi polemic dikalangan masyarakat Muba sendiri. Karena pesta malam sudah merupakan tradisi secara turun temurun bagi masyarakat.

Memang sisi negativenya pesta malam rawan terjadi penyimpangan atau terdapat faktor yang bertentangan dengan norma hukum dilakukan segelintir orang.  Seperti peredaran narkoba, miras, curanmor termasuk praktek prostitusi.

Namun disisi positifnya malam rama-tamah juga bermanfaat bagi penyelenggara hajatan yakni lelang tradisional bir/ayam, selaman pengantin, tamu undangan yang tidak sempat hadir siang resepsi pernikahan/khitanan bisa menyumbang dimalam rama-tamah bahkan pesta malam menjadi peluang kerja bagi warga sekitar seperti, menjual makanan/minuman dan membuka parkir kendaraan.

Masukan dari wartawan Jurnal Sumatra, jika Perda yang sempat dibahas itu untuk mengantisifasi peredaran narkoba. Sebenarnya pemerintah cukup membuatkan Perda tentang larangan host music juga batas waktu pesta malam. Pasalnya music keras itu diduga memang ada kaitan dengan peredaran narkotika.

Apalagi sekarang ini, selain pemain kaybord pemilik orgen tunggal kerap membawa Disco Jockey (DJ) diacara malam rama-tamah pesta rakyat. Hal ini perlu untuk ditindaklanjuti bagi Pemkab Muba terutama pihak Kepolisian. Karena sangat tidak pantas, hiburan layaknya diskotik ini disajikan untuk masyarakat luas. (Rafik Elyas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 3 =