Di Muba, Perangkat Desa Nyanyikan Lagu Menunggu

Muba, Sumsel, jurnalsumatra.com- Nasib malang dialami pejabat paling bungsu, kepala desa (Kades), Sekretaris desa (Sekdes), Kepala dusun (Kadus) Rt-Rw dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) diwilaya Kabupaten Musi Banyuasin (Muba)

Tanggung jawab besar, tunjangan kecil pembayarannya terlambat pula, bahkan terhitung Oktober 2017 hingga Januari 2018 tunjangan untuk seluruh perangkat desa di Bumi Serasan Sekate itu belum juga dibayar. Hal ini membuat perangkat desa mengeluh dan penuh dengan khidmat menyanyikan lagu menunggu berkepanjangan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun jurnalsumatra.com dilapangan, untuk tunjangan kades per bulan Rp 3.000.000,-  Sekdes Rp 1.750.000,- Ketua BPD sebesar Rp. 2.000.000,-. Sedangkan tunjangan perangkat lainnya berpariasi.

Namun keterlambatan pembayaran gaji perangkat desa tersebut masih dalam tanda tanya, apa pejabat Muba sekarang ini sedang sibuk, mengingat tidak lama lagi akan diselenggarakannya  Pilkada serentak atau keuangan daerah memang kosong.

“Kita tidak tau persis penyebab keterlambatan, yang jelas sudah tiga bulan ini tunjangan kami belum dibayar, ini terhitung mulai Oktober 2017 hingga Januari 2018. Keadaan ini sebenarnya bisa saja berpengaruh dengan layanan terhadap warga yang kurang maksimal, kalau didesak ekonomi akibat gaji belum dibayar.

Tapi apa boleh buat. Kepalang sukseskan dulu Asian Games dan Pilkada serentak 2018, soal tunjangan nanti saya berpesan dengan seluruh rekan-rekan perangkat desa untuk bersabar yang penting sukseskan duluh Asian Games dan Pilkada serentak 2018.” Canda Damsih salah satu kepala dusun (Kadus) desa Sindang Marga Kecamatan Sungai Keruh saat dibincangi, Selasa (16/1/2018).

Sementara Indra salah satu ketua Rt desa Jirak, Kecamatan Jirak Jaya mengaku, kalau dirinya hampir enam bulan belum gajian. Bahkan menurut dia akibat belum cairnya tunjangan banyak perangkat desa yang rela berhutang kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau memang tidak ada lain ceritanya. Berhubung ada tunjangan maka banyak yang sanggup mengambil hutang diwarung untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sembari menunggu tunjangan turun.

Rupanya tunjangan tak kunjung cair, nah bagaimana mau membayar hutang yang sudah terlanjur diambil. Ini sama hal nya dengan pribahasa ”Tekacit diantara Tiang,” tunjangan tak kunjung turun hutang diwarung sudah menumpuk.

Mendingan kalau bagi Kadus, Rt dan anggota BPD mereka tidak terlalu sibuk dibidang pemerintahan. Tapi bagi yang sibuk dibidang pemerintahan seperti Sekdes, Kades mereka tidak banyak waktu untuk bekerja lain. Bisa saja masalah ini menambah beban bagi mereka, apalagi harga bahan pokok sekarang ini banyak mengalami kenaikan.”Beber dia. (Rafik Elyas)

Leave a Reply