Diduga Bank Mandiri Persekusi Nasabahnya

Palembang, jurnalsumatra.com – Adalah Erika korban traumatis ancaman kekerasan Debt Colector Bank Mandiri Kapten A Rivai yang hingga kini belum dapat melupakan peristiwa perkelahian adik dan ayahnya melawan yang diduga preman debt collector Bank Mandiri.

Berawal dari tamu tak diundang menggedor – gedor dengan keras pintu dan jendela  rumah “Irwan” orang tua Erika hingga Yusuf adik Erika keluar menanyakan apa gerangan sampai mendobrak pintu depan rumahnya.

Salah seorang preman debt collector yang bernama Hafiz tanpa basa – basi menunjukkan secarik kertas yang isinya disinyalir adalah ancaman penyitaan rumah bila hutang ke Bank Mandiri tidak segera dilunasi. Sehingga terjadi perdebatan yang semakin memanas “Yusuf vs Hafiz” hingga keluar kata – kata ancama dari mulut Hafiz, “Lah galak kamu ye”, ujar Yusuf kepada tim redaksi.

Entah siapa yang memulai terjadilah adu jotos yang melibatkan dua orang preman debt collector melawan tuan rumah “Yusuf dan Irwan”. Merasa sudah tua dan tidak mampu melawan anak muda suruhan Bank Mandiri, “Irwan” mengambil sepotong kayu untuk membela diri.

Dengan rasa takut dan emosi karena hinaan dan ancaman preman debt collector Bank Mandiri, “Irwan” memukul Hafiz dengan sepotong kayu. Peristiwa adu jotos di halaman rumah “Irwan” orang tua Erika ternyata berbuntut panjang laporan ke Kepolisian Polsekta Sukarami.

“Irwan” di klarifikasi penyidik Polsekta Sukarami atas aduan “Hafiz” yang merasa dianiya dan dikeroyok  oleh “Irwan dan Yusuf” hingga benjol di kepala kena pukulan kayu. Upaya damaipun dilakukan oleh “Irwan” atas anjuran fihak Kepolisian Polsekta Sukarami.

Upaya damai yang di upayakan “Irwan” terkesan terkendala dengan syarat dari “Hafiz” yang meminta 3 (tiga) permintaan sebelum perdamaian. Syarat yang dinyatakan hafiz dinyatakan dalam SMS kepada Istri Irwan yaitu “Bukan soal yang  melunasi hutang KPR Bu, dua yang ringan saja tidak di jalankan ….”, ujar hafiz dalam SMS ke Ibu Irwan.

Ketika di konfirmasi ke Ibu Irwan didapat jawaban mengenai 3 (tiga) syarat yang harus di penuhi sebelum adanya perdamaian yaitu “melakukan CT Scan terhadap benjol di kepala Hafiz kemudian meminta maaf kepada Bank Mandiri dan melunasi KPR Bank Mandiri sebesar Rp. 285 juta”, ujar Ibu Irwan ketika di konfirmasi.

“Kami menyanggupi dua syarat pertama yang di minta Bank Mandiri dan juga Hafiz yaitu CT Scan benjol di kepala Hafiz dan meminta maaf ke Bank Mandiri namun syarat yang ketiga yang tidak mampu memenuhi yaitu membayar lunas KPR Bank Mandiri sebesar 285 juta itu”, ujar Ibu Irwan kembali.

“Kami selalu membayar angsuran KPR Bank Mandiri walaupun terkadang telat 1 sampai 3 bulan termasuk denda jadi kami bingung dengan Bank Mandiri yang mengirim debt collector ke rumah kami dan mengancam melelang rumah kami”, kata Ibu Irwan dengan sedihnya.

“Kalaupun upaya perdamaian memang harus melelang rumah yang kami tempati saat ini, ya silahkan walaupun kami telah membayar cicilan sampai Sembilan tahun sampai sekarang ini, kami memang orang kecil dak mungkin sanggup melawan Bank Mandiri tapi kami juga warga negara Indonesia”, ujar Ibu Irwan dengan terbata – bata.

Perintah Kapolri sudah sangat jelas untuk memberantas premanisme di segala sisi namun disayangkan Bank Plat Merah milik Pemerintah justru diduga sebaliknya menggunakan cara – cara premanisme dengan intimidasi untuk melayani nasabahnya.(ferry irawan)

Leave a Reply