Diduga Tidak Sesuai RAB Kontruksi Jalan Dilaporkan


Muba, jurnalsumatra.com –  Diduga tak sesuai RAB pengadaan kontruksi Jalan Produksi Kawasan Perkebunan di Kampung Sekate (sungai mandi), Kelurahan Soak Baru Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tahun anggaran 2018 lalu, dilaporkan Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Tim Investigasi Pidana Korupsi Indonesia (DPD- LA-TPIKOR-IND) Provinsi Sumatera Selatan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sekayu, Senin (11/2/2019).

Sementara laporan tersebut berdasarkan temuan ketua LA-TIPIKOR IND Hermanto SH, saat investigasi secara langsung kelapangan. “Hasil cross check dilapangan, kuat dugaan kegiatan tersebut dikerjakan tidak sesuai dengan RAB, bahkan dibuat sebagai ajang korupsi oleh PPK, KPA, PPTK bekerjasama dengan kontraktor, pelaksana pekerjaan tersebut. Indikasinya adalah, Papan proyek tidak ada, pemasangan batu krokos sangat tipis dan tidak merata, hingga kondisi jalan produksi sekarang ini hampir 90% hancur.

Negara diperkirakan mengalami kerugian sebesar kurang lebih, Rp 200.000,000,- didalam kegiatan Dinas Perkebunan APBD ditahun anggaran 2018 di Kelurahan Soak Baru itu. Semua bukti otientic lengkap, potoh pekerjaan, surat pendukung pelapor dari Rt-Rw bersama masyarakat setempat kami lampirkan kepihak penyidik.”Ujar Hemanto SH, saat dibincangi wartawan Jurnal Sumatra.com kemarin.  

Dijelaskannya, kalau surat laporan pengaduan itu ia sampaikan ke Kejari Sekayu, merupakan komitmen DPD-LA-TIPIKOR-IND dalam membantu percepatan pemberantasan Korupsi diwilaya hukum pemerintah Provinsi Sumatera Selatan khususnya di Kabupaten Muba. “Kami sangat berharap laporan ini segera ditindaklanjuti”. Harap dia.     

Berdasarkan pantauan Jurnal Sumatra.com dilapangan, kegiatan Dinas Perkebunan Muba dalam pengadaan kotruksi Jalan Produksi Kawasan Perkebunan di Kampung Sekate (sungai mandi), Kelurahan Soak Baru Kecamatan Sekayu, ditahun anggaran 2018 dengan menggunakan APBD Muba sebesar Rp 470.000.000,- sebelumnya sempat diperotes warga setempat, karena pekerjaan tidak menunjukan hasil yang maksimal.

“Jalan produksi itu tidak sesuai dengan harapan kami warga, terkesan menghambur-hamburkan uang Negara. Coba perhatikan dari dana 470 juta, tembok penahan tanah pada jembatan besi itu terbuat dari kayu, itupun pihak kontraktor menggunakan kayu bekas warga membakar lahan pertanian, tidak tau sekarang apa sudah diganti atau belum, karena sudah lama saya tidak kesana pak.”Jelas Helmi warga setempat.

Menurut Helmi, selain tipis batu koral yang dipasang kurang- lebih 300 meter dari volume jalan yang diperkirakan 1500 meter. “Sebelumnya kami sudah mengkhawatirkan, sekarangkan terbukti kalau jalan tersebut tidak akan bertahan lama, ditambah lagi sekarang ini memasuki musim hujan, kapan saja timbunan tanah pada jembatan besi yang menggunakan kayu bekas itu ambruk”,Sesalnya. (Rafik Elyas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 14 =