Distanbun Lebak Instruksikan Petani Gerakan Tanam Serentak

    Lebak, jurnalsumatra.com – Dinas Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak menginstruksikan petani melaksanakan gerakan percepatan tanam serentak setelah panen raya di daerah itu.
“Kami menargetkan angka tanam padi dari Februari sampai April 2018 seluas 43.000 hektare guna mendukung produksi pangan nasional,” kata Kepala Distanbun Kabupaten Lebak Dede Supriatna saat dihubungi di Lebak, Senin.
Untuk mendukung produksi pangan, pihaknya meminta petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kecamatan, petugas penyuluh lapang (PPL), gabungan kelompok tani (Gapoktan), dan kelompok tani (Koptan) agar melakukan gerakan tanam padi serentak.
Saat ini memasuki musim hujan berdasarkan BMKG Banten hingga Juni mendatang.
Apabila, petani melaksanakan percepatan tanam serentak maka bisa dipanen Agustus 2018.
Percepatan tanam serentak sangat menguntungkan petani karena panen secara bersamaan juga dapat menghindari serangan hama dan penyakit tanaman lainnya.
Selain itu juga penanaman secara serentak juga memiliki nilai ekonomis dan tidak merugikan petani.
Berdasarkan pantauan di lapangan sebagian besar petani Kabupaten Lebak mulai melaksanakan gerakan percepatan tanam, seperti di Kecamatan Muncang, Cibadak, Cikulur, Rangkasbitung, Cimarga, Cipanas, Cileles,Malingping, Panggarangan, Wanasalam dan Leuwidamar.

     Mereka para petani melakukan percepatan tanam padi dan usia tanamannya antara tiga sampai tujuh  hari setelah tanam (HST).
Saat ini, curah hujan berpeluang pada sore hingga malam hari dengan intensitas ringan dan sedang.
“Kami optimistis percepatan tanam serentak bisa menargetkan tanam seluas 43.000 hektare hingga April 2018,” katanya.
Sejumlah petani di Kabupaten Lebak kembali melaksanakan percepatan tanam serentak sehubungan curah hujan di daerah itu cenderung meningkat.
Penanaman serentak secara serentak karena curah hujan selama dua pekan terakhir cenderung meningkat.
Gerakan percepatan tanam serentak di wilayahnya hanya dilakukan saat curah hujan tinggi.
Sebab, kebanyakan areal persawahan di wilayahnya itu merupakan sawah tadah hujan.
Mereka petani membiarkan areal persawahan jika musim kemarau akibat tidak memiliki jaringan infrastruktur irigasi.
“Kami sejak turun-temurun tanam padi saat musim hujan dan setiap tahun hanya dua kali masa panen,” kata Ketua Kelompok Tani (Koptan) Suka Bunga Desa Tambak Baya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Ruhyana.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 5 =