Djarot Kunjungi Lokasi Pengungsian Bung Karno

     Karo, Sumut,jurnalsumatra.com – Calon Gubernur Sumatera Utara Djarot Saiful Hidayat mengunjungi lokasi pengungsian Bung Karno di Desa Lau Gumba, Selasa, ketika menjalani kampanye di Kabupaten Karo.
Lokasi pengungsian Pertama pertama RI di Kecamatan Berastagi tersebut kini dijadikan mess penginapan yang dikelola oleh Pemprov Sumut.
Dalam kunjungan tersebut, Djarot Saiful Hidayat melihat ruangan dan tempat tidur yang digunakan Bung Karno bersama mantan Menteri Luar Negeri Agus Salim dan mantan Perdana Menteri Sutan Syahrir selama dalam pengungsian.
Setelah itu, cagub yang didukung PDI Perjuangan dan PPP itu melihat pohon beringin dan pendopo yang digunakan Bung Karno untuk bersantai selama diungsikan di Karo.
Menurut Djarot, lokasi pengungsian Bung Karno tersebut merupakan salah satu situs sejarah yang harus dirawat dan dipelihara.
Hal itu disebabkan lokasi yang kini dijadikan mess tersebut merupakan salah satu bukti dan saksi sejarah perjalanan dan perjuangan para pendiri bangsa.
“Supaya masyarakat tahu Bung Karno pernah diungsikan ke sini,” kata cagub yang berpasangan dengan Sihar Sitorus tersebut.

Lokasi pengungsian di Karo tersebut juga semakin menarik karena direncanakan menjadi lokasi bagi penjajah untuk menghabisi nyawa Bung Karno.
“Dari sejarah yang saya baca, di sinilah rencananya Bung Karno mau dibunuh,” ujar mantan Wali Kota Blitar, Jawa Timur, itu.
Selain sejarah, ujar Djarot, keunikan lain yang cukup menarik perhatian adalah keberadaan pohon beringin yang berdaun cemara.
Sugeng Priyono, penjaga mess tersebut mengatakan, lokasi pengungsian Bung Karno tersebut juga sering dikunjungi wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, seperti dari Belanda, Inggris, Kamboja, Malaysia, dan Singapura.
Hal itu disebabkan tempat tersebut merupakan lokasi pengungsian tiga pahlawan nasional yang memiliki pengaruh sangat besar dalam perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Dalam catatan sejarah, Bung Karno, Agus Salim, dan Sutan Syahrir diungsikan selama 11 hari di tempat itu, yakni sejak 22 Desember 1948 hingga 1 Januari 1949.
“Tidak banyak yang dilakukan Bung Karno selama di sini karena beliau berstatus tawanan,” ujar Sugeng.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − four =