DPRD Kalsel Sinkronkan Litbangda Dengan Kalteng

Banjarmasin, jurnalsumatra.com – Komisi III Bidang Pembangunan dan Infrastruktur DPRD Kalimantan Selatan mau menyinkronkan penelitian dan pengembangan daerah (Litbangda) dengan provinsi tetangga, Kalimantan Tengah.
Oleh sebab itu, kunjungan kerja ke luar daerah, 13 – 15 Desember 2018, kelompok I Komisi III DPRD Kalsel studi komparasi ke Kalteng, ujar Sekretaris Komisi III tersebut, H Riswandi SIP di Banjarmasin, Kamis.
Anggota DPRD Kalsel¬†¬†tiga periode dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan, banyak hal yang perlu sinkronisasi dengan Kalteng yang menggunakan motto daerah “Isen Mulang” (pantang mundur) tersebut.
Sebagai contoh program restorasi lahan gambut yang belakangan merupakan isue nasional dalam kaitan permasalahan lingkungan hidup serta pemanfaatan potensi sumber daya alam (SDA) tersebut guna kesejahteraan masyarakat setempat.
“Jangan-jangan kita gencar dengan restorasi lahan gambut, sedangkan Kalteng misalnya biasa-biasa saja, mungkin karena pengalaman dengan proyek lahan gambut (PLG) sejuta hektare,” tutur mantan pegawai Departemen Keuangan RI itu.

Studi komparasi ke Bumi Isen Mulang atau “Bumi Tambun Bungai” Kalteng itu dipimpin Ketua Komisi III DPRD Kalsel Dr (HC) H Supian HK SH dari Partai Golkar disertai pejabat Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) provinsi setempat.
Wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel IV/Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) itu berharap, dengan sinkronisasi Litbangda bisa mempercepat pembangunan serta kemajuan daerah/provinsi bertetangga tersebut.
“Oleh karenanya dari hasil studi komparasi tersebut kita bisa menyinkronkan Litbangda dengan Kalteng yang luasnya hampir satu setengah kali luas Pulau Jawa,” demikian Riswandi.
Sebelumnya (1945 – 1949) Pulau Kalimantan hanya satu provinsi dengan gubernur pertama Ir Pangeran H Mohammad Noor, kemudian 1950 menjadi tiga provinsi yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalsel sendiri.
Pada 1957 wilayah Kalteng memisahkan diri dari Kalsel atau menjadi provinsi berdiri sendiri dengan gubernurnya yang pertama putra daerah komunitas Dayak yaitu Tjilik Riwut (alm) dan kini menjadi nama Bandar udara (Bandara) di Palangkaraya.(anjas)

Leave a Reply