Dwi Sulisworo Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UAD

Yogyakarta, jurnalsumatra.com –  Menjelang peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI, keberkahan turut menghampiri Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dengan bertambahnya jumlah guru besar di lingkungannya. 

Yakni, Dr Ir Dwi Sulisworo, MT berhasil menyandang predikat guru besar di bidang ilmu teknologi pembelajaran dan menjadikannya sebagai guru besar yang ke-5 di lingkungan UAD Yogyakarta serta guru besar ke-2 pada tahun 2019.

Pengangkatan Dr Ir Dwi Sulisworo, MT sebagai guru besar ditandai dengan penyematan lencana kehormatan guru besar oleh Rektor UAD Dr H Kasiyarno, M.Hum disaksikan ayahnya Sumadi, isteri dan anaknya.

Suatu keuntungan penetrasi pengguna internet dan juga mobile gadget didominasi kalangan usia muda sehingga pemanfaatan piranti mobile untuk pembelajaran menjadi memungkinkan.

Hal itu disampaikan Prof Dr Ir Dwi Sulisworo, MT dalam pidato pengukuhan Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di Kampus Utama UAD, Jalan Ring Road Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Kamis (8/8/2019), yang dihadiri Prof Dr drg H Sudibyo, SU, Sp.Perio(K) dari Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, Kepala LLDIKTI Wilayah V Prof Dr Didi Achjari, SE, M.Com, Akt, Dr Untung Cahyono dan HM Muchlas Abror dari BPH UAD Yogyakarta, Dra Hj Latifah Iskandar dari PP Aisyiyah, PWM DIY, PWA DIY, perwakilan PTN, PTS dan PTM/A se-DIY.

Ketika sampaikan pidato yang menyoal penerapan mobile learning sebagai upaya pemerataan akses pendidikan berkualitas di Indonesia, Dwi Sulisworo menjelaskan bahwa hasil-hasil penelitian terkait strategi pembelajaran kooperatif yang sudah diujicoba di sekolah-sekolah dan juga penelitian penerapan e-learning menjadi dasar untuk pengembangan dan penerapan pembelajaran menggunakan piranti mobile yang dapat menjadi alternatif bagi peningkatan kinerja pembelajaran.

“Dengan semakin berkembangnya teknologi piranti mobile yang juga memberikan layar yang lebih lebar, peluang pemanfaatannya pun juga berkembang,” kata Dwi Sulisworo mengutip pendapat Cobcroft (2006).

Dikatakan Dwi Sulisworo, perubahan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang mobile dan nirkabel dalam pembelajaran berkembang sangat luas dan cepat di berbagai aspek.

“Dewasa ini, orang semakin nyaman menggunakan piranti mobile dalam aktivitas belajar,” tandas Dwi Sulisworo.

Menurut Dwi Sulisworo, masyarakat Indonesia pada tahun 2010-an sudah siap dalam pemanfaatan mobile technology. “Baik secara sosial maupun teknologi,” tandas Dwi Sulisworo, yang menambahkan penggunaan smartphone sebagai piranti mobile learning di sekolah memiliki kontroversi.

Di satu sisi sekolah melarang karena akan mengganggu proses pembelajaran di kelas, di sisi lain pendidik melihat ada banyak potensi yang dapat dimanfaatkan dari mobile technology.

Bagi Dwi, beberapa tahun terakhir ini telah terjadi perubahan yang signifikan pada kesadaran pendidik dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran. “Terutama dalam mobile learning,” tandas Dwi Sulisworo.

Diterangkan Dwi, hal itu menjadikan para pendidik menyadari bahwa teknologi digital menyediakan peluang-peluang suatu bentuk pembelajaran yang berbeda. “Termasuk dalam hubungan pendidik dan peserta didik, pendidik dan pendidik, peserta didik dan peserta didik serta peserta didik dengan materi ajar atau kompetensi,” kata Dwi Sulisworo.

Teknologi mobile memberikan lebih banyak kemungkinan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dalam banyak aspek.

Dan mobile learning merupakan bagian dari pembelajaran elektronik atau e-learning, yang memberikan peluang lebih luas secara mobile dan kapabilitas yang lebih untuk pembelajaran peserta didik.

“Penggunaan teknologi informasi dalam menunjang suatu sistem pendidikan jarak jauh merupakan hal yang sangat vital,” kata Dwi Sulisworo.

Untuk mendapatkan gelar guru besar, disampaikan Rektor UAD Dr H Kasiyarno, M.Hum tidaklah mudah. “Karena memerlukan upaya kerja keras dan perjuangan yang tidak mengenal menyerah,” kata Kasiyarno.

Untuk mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar, langkah yang diambil UAD Yogyakarta adalah membuat semacam kebijakan akseleratif kenaikan jabatan akademik Lektor ke Lektor Kepala dan Lektor Kepala ke Guru Besar bagi para dosen bergelar doktor. “Hal itu sudah terwujud hasilnya,” tandas Kasiyarno.

Keberhasilan Dr Dwi Sulisworo meraih guru besar merupakan keberhasilan dosen UAD Yogyakarta atas capaian yang diraihnya, yaitu jabatan tertinggi sebagai guru besar di UAD Yogyakarta di bidang ilmu teknologi pembelajaran.

“Prestasi ini semoga membawa berkah bagi kemajuan keilmuan dan lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah UAD di masa mendatang,” papar Kasiyarno.

Bagi Kasiyarno, guru besar merupakan jenjang kepangkatan atau jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi atau di lembaga penelitian.

“Peran dan tanggung jawab yang sangat penting dari seorang guru besar sebagai ilmuwan dan mahaguru adalah meningkatkan pengalaman mahasiswa sarjana dan pascasarjana dalam proses penguasaan ilmu dan ketrampilan,” kata Kasiyarno.

Menurutnya, ilmu sangatlah penting dalam membangun peradaban. “Untuk itu peran pak Dwi Sulisworo sangat ditunggu-tunggu agar kehidupan bangsa Indonesia menjadi baik,” kata Kasiyarno, yang juga sangat menunggu peran dan aktifitas Prof Dr Dwi Sulisworo dalam membina dan meningkatkan kualitas pendidikan di UAD Yogyakarta.

Pada kesempatan itu, Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof Dr Didi Achjari, SE, M.Com, Akt, ucapkan selamat kepada Dr Ir Dwi Sulisworo, MT atas pengukuhan guru besar. “Semoga lebih produktif dalam berkarya dan berkontribusi,” ujar Didi Achjari.

Dikatakan Didi, mutu dan eksistensi UAD Yogyakarta kini semakin diakui serta menjadikan UAD berisi ilmuwan yang santun dalam bersikap dan bertindak.

Didi Achjari mengatakan, dengan bertambahnya guru besar di UAD Yogyakarta ini menjadi sebuah kerja keras yang terbayar. “Terlebih saat ini jumlah guru besar di PTS wilayah V sendiri berum terlalu banyak,” kata Prof Dr Didi Achjari, SE, M.Com, Akt, yang ucapkan selamat kepada UAD Yogyakarta kini jumlah guru besarnya kembali bertambah.

Prof. Didi Achjari menambahkan, tanggung jawab yang ada di pundak seorang guru besar semakin tinggi. “Sudah sepantasnya seorang guru besar memiliki perilaku yang baik dan mampu membagikan keahliannya sesuai dengan bidang keilmuannya,” kata Didi Achjari.

Sementara itu, Prof Dr drg H Sudibyo, SU, Sp.Perio(K) dari Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, salah satu putra terbaik dari UAD Yogyakarta yang dikukuhkan sebagai guru besar berpengaruh terhadap 176 PTM/A di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan itu Prof Dr drg H Sudibyo, SU, Sp.Perio(K) mengungkapkan rasa syukur dengan bertambahnya guru besar di lingkungan UAD Yogyakarta yang harapannya kualitas pendidikan di UAD Yogyakarta akan terus meningkat. 

“Menjadi guru besar yang dipandang memiliki penguasaan suatu bidang yang sangat baik saat ini perannya cukup besar di lingkungan civitas akademika maupun masyarakat umum,” terang Prof Dr drg H Sudibyo, SU, Sp.Perio(K). (Affan)