Esti Wijayati Menyoal Gejala Tergerusnya Nilai-nilai Pancasila di Masyarakat

BANTUL, Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Saat ini, di kalangan masyarakat hanya sedikit yang memahami dan mengetahui tentang nilai-nilai Pancasila. Dan, gejala tergerusnya nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara di masyarakat, memang nyata adanya.

“Padahal, nilai Pancasila itu sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan bangsa,” kata Maria Yohana Esti Wijayati di depan kepala sekolah dan komite sekolah, hari ini di Grhatama Pustaka Jl Janti, Banguntapan, Bantul.

Selain sosialisasi MPR RI “Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara, Ideologi Bangsa dan Negara”, anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi PDI-P Dapil DIY itu juga membahas persoalan pendidikan. Terutama, tentang sistem zonasi yang diatur dalam Permendikbud No. 17/2017 tentang penerimaan peserta didik baru.

Perempuan yang bertempat tinggal di Sentul Geneng, Sidoagung, Godean, Sleman, mengatakan, sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah.

Esti menjelaskan, permasalahan zonasi dibutuhkan kearifan lokal. “Agar anak didik tidak kesulitan untuk mengakses pendidikan,” tandas Esti.

Sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru yang diatur dalam Permendikbud No. 17/2017, Esti menyebutnya sebagai sistem yang tepat untuk menghapus perspektif favoritisme sekolah di masyarakat.

“Masyarakat berangan-angan anaknya semua masuk sekolah favorit,” kata Esti, yang menilai hal itu sebagai tidak adil karena menciptakan sekolah-sekolah favorit.

Menurut Esti, hal itu tidak merata karena di pinggiran tidak terfasilitasi. “Ini yang harus dipindahkan ke pinggiran,” kata Esti. “Membuat sekolah yang bagus di sana dengan sistem zonasi.”

Dikatakan Esti, sekolah-sekolah yang dianggap favorit leluasa memilih calon siswa dengan nilai yang paling tinggi. “Ini yang jadi ketimpangan, persaingan yang favorit dan tidak favorit, atau antara yang favorit satu dan dua jadinya tidak seimbang,” kata Esti lagi.

Pada kesempatan itu, disampaikan pula sosialisasi beasiswa program Indonesia pintar (PIP), yang merupakan salah satu Nawacita Presiden RI Ir Joko Widodo diperuntukkan bagi masyarakat yang memiliki anak usia sekolah, yang besarnya Rp 400 ribu hingga Rp 1 juta per tahun tiap anak.

“Beasiswa PIP ini harus tepat pada fungsinya dan tidak boleh digunakan selain untuk kepentingan sekolah,” terang Esti. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × two =