Film Cerita Lahat Masih Tunggu Sponsor

Lahat, Sumsel, jurnalsumatra.com – Film yang akan mengangkat semua cerita tentang Lahat, berikut semua potensinya,  yaitu Megalit, Air Terjun, dan potensi-potensi lainnya untuk diangkat kelayar lebar melalui Televisi Swasta serta bertujuan mengejar rekor Muri, belum bisa ditayangkan masih menunggu Sponsor.

“Pasti akan diputar. Namun, saat ini Film yang disutradarai Amir Gumay itu, masih menunggu Sponsor yang tepat. Karena penayangan untuk naik kelayar lebar butuh dana yang cukup besar,” ungkap Kabid Objek Pariwisata Disbudpar Lahat Sadina Amin, Rabu (21/2/2018).

Dijelaskan Amin, pembuatan Film tersebut memang sedikit mengalami keterlambatan. Karena, saat hendak Shoting untuk mengangkat cerita Lahat ini, Pemda hanya selaku pendampingan saja, dan memang terlaksananya Film ini ada kucuran dana sekitar 500 juta melalui APBD II Lahat melalui tender atau pihak ketiga.

 “Pembuatan atau lelangnya Film ini melalui dana APBD II Lahat pada Desember 2016 lalu. Sampai saat ini belum tayang, karena belum ditemukan Sponsor yang tepat,” kilahnya.

Bahkan, diakuinya, dalam pembuatan Film tersebut memakan waktu 21 hari. Serta mendapat respon positif serta tingginya antusias masyarakat Lahat untuk menyaksikan dilayar lebar. Rencana pemutaran film “Anak Negeri Megalit” ini, yang dibuat pada 30 Nopember 2016 tahun lalu, dan akan launching pada bulan Desember 2017. Resminya, film itu akan diputar kelayar setelah sutradara mendapatkan Sponsor.

 “Penayangannya sendiri nanti akan dilakukan secara serentak di 35 Provinsi se-Indonesia. Namun, untuk di Bioskop Citimall jelas akan tayang. Kita tunggu saja nanti,” kata Amin.

Awalnya, secara resmi dimulai syuting perdananya berjudul ‘anak negeri megalith. Penggarapannya sendiri dimulai dari halaman Pemkab Lahat, dan Bupati H Saifudin Aswari Rivai SE juga langsung ambil bagian dalam take syuting. Namun, kenyataannya sudah hamper dua tahun film yang ditunggu-tunggu itu, belum juga ditayangkan dilayar lebar.

 “Percayalah Film untuk mengangkat objek wisata Lahat ini pasti akan ditayangkan. Hanya saja saat ini dimintak masyarakat dapat lebih bersabar menyaksikan Film tersebut,” tuturnya.

Saat disinggung isu soal Film tersebut terancam gagal, Amin membantah, tidak mungkin akan gagal. Karena, belum lama ini pihaknya (Disbudpar-red) sudah menghubungi sutradara menanyakan kapan akan diputarnya Film yang mengangkat objek wisata Lahat atau “Anak Seribu Megalit” itu.

 “Nah, hasil komunikasi dengan sutradara mereka tetap menyuruh tunggu, karena pemutaran Film tersebut untuk kelayar lebar membutuhkan dana yang cukup besar sehingga saat ini pihak sutradara masih mencari Sponsor yang tepat. Setelah itu, Film tersebut akan segera disaksikan semua Provinsi se-Indonesia,” pungkasnya.

Berita sebelumnya, Fauzi Badila salah satu aktor Flm ANM mengatakan, setahun setelah rampung melakukan syuting film seluruh pemain dan Kru tidak menerima bayaran yang dijanjikan sesuai kontrak. Bahkan hingga kini masih menunggu sang rumah produksi untuk menyelesaikan kontrak yang dijanjikan agar film ANM benar- benar launching dan tidak mengecewakan masyarakat.

 “Iya, produksinya bodong hingga kini belum dibayar sampai sekarang. Manajer gue udah turun tangan nagih langsung, tapi ya gitu sampai sekarang seperti nggak digubris oleh rumah produksi,” jelasnya Senin (4/12/2017).

Ia menegaskan, Film yang mengangkat tentang Pariwisata di Kabupaten Lahat itu sangat disayangkan pula oleh para kru. Apalagi syuting berjalan lancar pada awalnya pengambilan gambar akan tetapi masalah dana menjadi alasan utama bagi rumah produkai yang bekerjasama dengan Pemkab Lahat sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan kontrak yang dijanjikan.

 “Kita dituntut profesional. Pas semua proses berjalan di tengah jalan mulai muncul masalah. Dari soal penginapan sampai ada kru yang nggak dibayar. Tapi tetap, rumah produksi bersikeras syuting tetap berlanjut dan kami harao pihak terkait segera menyelesaikan permasalahan yang ada,” ujarnya lugas. (Din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *