Forum 5 Desa Demo ke-PT Primanaya Energi

Lahat, jurnalsumatra.com – Lantaran tidak terbuka dalam merekrut tenaga kerja sebagai Securty sebanyak 47 orang membuat warga Desa Merapi Area, Kabupaten Lahat, emosi dengan menggelar aksi demo ke perusahaan PT Primanaya Energi, yang berlokasi didesa Kebur Kecamatan Merapi Barat.

Ratusan masa yang datang tergabung dalam Forum 5 Desa Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, pada Kamis (23/01/2020). Aksi tersebut, sempat tidak temukan titik terang antara pihak perusahaan dengan warga pendemo.

Akibatnya, aksi damai yang digelar oleh Forum 5 Desa Kecamatan Merapi Barat, Lahat itu, sejak pukul 08.30 WIB sampai berakhir pada pukul 18.20 WIB, masa baru membubarkan diri.

Masa merasa kecewa dikarenakan pihak PT Primanaya Energi merekrut tenaga kerja secara diam diam dan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada warga sekitar yang masuk dalam IUP PT Primanaya Energi. 47 tenaga kerja untuk pengamanan Scurity diambil dari daerah lain.

Awalnya, sekitar jam 08.00 WIB warga Desa Kebur berkumpul dibalai desa yang akan menuju ke PT Primanaya Energi. Warga kembali kumpul sekira pukul 08.10 WIB sampai dipintu perusahaan. Sekira jam 08.20 WIB masa bertambah dari Desa Telatang ikut bergabung menyampaikan orasinya.

Lantas, jam 09.30 WIB pihak perusahaan menemui masa pendemo dan melakukan negosiasi. Berlanjut, sekira pukul 10.00 WIB diadakan pertemuan antara perwakilan pendemo dengan PT Primanaya Energi.

“Apabila tidak menemukan titik terang, masa akan kami datangkan lagi. Saat ini 250 orang warga dari Forum 5 Desa di Kecamatan Merapi Barat saja,” ungkap Koordinator Aksi (Korak) Doni (32) warga Desa Kebur dalam orasinya, Kamis (23/01/2020).

Sedangkan, pembacaan tuntutan dari 5 Desa disampaikan oleh Joni Irawan. Sekitar pukul 10.00 WIB diadakan pertemuan para pendemo dan perusahaan. Lalu, menyusul sekitar jam 11.20 WIB datang Kepala Desa Kebur, Kepala Desa Telatang, Kepala Desa Tanjung Telang dan Kepala Desa lainnya.

Terhembuslah, bahwa perusahaan tidak ada izin ke Pemerintah desa ataupun permisi kewarga desa sekitar jadi jelas jelas ini sudah menyalahi aturan dan perundang undangan yang membudayakan tenaga lokal juga secara tidak langsung ini berpengaruh terhadap timbal balik dari ke perusahaan.

“Kami menuntut 1, tenaga kerja yang ada di sini adalah putra daerah 5 desa. 2, scurty adalah tenaga kerja non skill yang bisa mengabil dari warga, 3, perusahaan secara diam melaksankan perekrutan. 4, keluarkan pekerja sup kon PT Virtus yang bekerja karena tidak terdapat warga kami yang bekerja. 5, yang bekerja di perusahaan adalah 60 % putra darah yang 40% silahkan dari pihak perusahaan,” imbuhnya.

Usai mendengarkan tuntutan warga, perwakilan dari perusahaan PT Primanaya Energi, Benny menegaskan dikarenakan PLTU ini akan di jadikan Objek Vital Nasional, membuat pihaknya dituntut sehingga ada tenaga keamanan yang sudah mempunyai sertifikasi.

“Nah, untuk tenga kerja yang di datangkan karena 47 orang kami cuma di berikan waktu satu minggu untuk memenuhi syarat standar prusahaan Objek Vital Nasional. Adapun, mengenai tenaga kerja apa bila sudah siap maka kami akan di audit sehingga kebutuhan tersebut terpenuhi,” tegas Benny.

Petrus selaku perwakilan dari PT Virtus menerangkan, tidak bisa menarik warga disekitaran Merapi Area, dikarenakan, proses tender ini memakan waktu singkat. Jadi, dibutuhkan tenaga kerja instan dan siap pakai.

“Perekrutan pertama pada tanggal 30 des 2019 yaitu 30 orang dan 14 orang dari putra daerah 16 dari luar karena kebutuhan SDM. Sedangkan, untuk yang 47 orang kami tidak bisa memenuhi tuntutan warga untuk mengembalikan mereka, kebijakan kami akan menabah 15 orang dari desa sekitar,” kata Virtus.

Informasi berhasil didapat dilapangan wartawan online jurnalsumatra.com menyebutkan, sekitar pukul 12.43 WIB perwakilan menemui negosiasi keputusan dari masyarakat bahwa tidak menerima keputusan tersebut dan tetap menuntut seluruh pekerja non skil adalah warga desa, sekira pukul 14.09 kebali di lakukan pertemuan kebali pihak perusahaan bersedia 60%tenga lokal 40 % tenaga dari perusaan dengan persentase dari 37 orang adalah 22 orang. Perekrutan untuk warga Kecamatan Merapi Area, dimulai pada Jum’at (24/01/2020) besok pagi.

Aksi demo warga datang dari Forum 5 Desa Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat itu, mendapat pengawalan ketat dari Danramil 405-02/Merapi Area, Kasat Intel Polres Lahat, Kasat Sabara Polres Lahat, Kapolsek Merapi Barat. Dari TNI 10 orang Koramil 02 Merapi, Polri, 1 Pleton Unit Sabra Polres Lahat, ditambah 20 Anggota dari Polsek Merapi. (Din)