Forum Pondok Pesantren Segera Demo Kasus Alung

Lahat,Sumsel, jurnalsumatra.com – Rencana kalau tidak ada ara melintang pada Tanggal 23 April 2018 Forum Pondok Pesantren bakal menggelar demo yang dinamakan aksi 234. Terkait, kasus RA alias Alung yang sampai saat ini, belum ada kejelasan.

Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Lahat bersama dengan MUI Kabupaten Lahat, FKUB, NU, Muhammadiyah, Polres, TNI, Pemerintah Daerah (Pemda) Lahat dalam hal ini Kesbangpol Kabupaten Lahat serta Kejari Lahat menggelar rapat koordinasi (Rakor) terkait masalah ujaran kebencian yang dilakukan oleh RA.

Bahkan dalam rapat tersebut juga membahas adanya isu yang mengatas namakan Forum Pondok Pesantren yang akan melaksanakan unjuk rasa pada tanggal 23 April mendatang.

Kepala Kantor Kementrian Agama (Kekankemenag) Kabupaten Lahat, Drs H Rusidi Dja’far MM mengatakan, dalam Rakor bersama tersebut, pihaknya meminta masukan dan pendapat mengenai permasalahan RA alias Alung, apalagi permasalahan Alung selalu mendapatkan kecaman yang dilakukan oleh para pemuda Islam di Kabupaten Lahat.

“Sengaja kita menggelar rapat koordinasi ini, untuk menanggapi persoalan masalah kasus Alung. Apalagi saya dengar ada isu mengenai unjuk rasa yang dilakukan oleh Forum Pondok Pesantren pada tanggal 23 April mendatang atau yang dikenal dengan istilah 234,”ungkap Rusidi Dja’far, Kamis (26/4/2018)kemarin.

Bahkan dirinya meminta tanggapan dari MUI dan FKUB dalam rapat koordinasi tersebut. Tak hanya itu saja, mantan Kasubag TU Kemenag Lahat itu juga menegaskan agar Alung bersedia secara terbuka meminta maaf yang juga disaksikan oleh MUI, Pemda Lahat, FKUB, Polres, Kodim serta organisasi Islam lainnya di Kabupaten Lahat.

“Memang sih itu adalah jalan yang terbaik. Karena itulah dalam rapat ini kita sependapat bersama¬† yang hadir disini untuk bersama-sama menyelesaikan kasus Alung ini. Dimana ada tiga komitmen atau tiga point yang harus dilakukan untuk Alung. Yang pertama Alung akan kita undang bersama dengan Polres Lahat, Kodim dan MUI, FKUB serta organisasi Islam lainnya untuk bersedia meminta maaf secara terbuka, yang kedua agar Alung tidak mengulanggi hal itu lagi, dan yang terakhir untuk proses hukum masih terus jalan bahkan kalau Alung sudah meminta maaf mungkin pihak Polisi dapat menghentikan kasus ini,”pinta H Rusidi Dja’far.

Ketua MUI Kabupaten Lahat, KH Zulkiah A Kohar juga berpendapat bahwa dalam sejarah di Kabupaten Lahat, tentunya daerah tersebut selalu kondusif. Namun karena ada kasus Alung itu, ada beberapa hal yang menjadikan hal itu selalu berlarut-larut. Seperti adanya demo yang dilakukan oleh Aliansi Pemuda Islam (API) Kabupaten Lahat. Bahkan katanya lagi, adanya isu Forum Pondok Pesantren yang akan melangsungkan demo pada 23 April mendatang.

“Karena itulah, Kita berpendapat agar Alung secara terbuka meminta maaf dan tidak lagi mengulangginya lagi. Karena kita tahu selama ini Kabupaten Lahat selalu kondusif,” pesan KH Zulkiah A Kohar.

Sementara, ketua Forum Pondok Pesantren Kabupaten Lahat, Ustadz Ghubron menegaskan bahwa akan adanya unjuk rasa yang dilakukan oleh Forum Pondok Pesantren pada tanggal 23 April mendatang itu adalah tidak benar.

“Percayalah aksi 234 yang dilakukan Forum Pondok Pesantren tidak akan terjadi keributan. Kami tetap akan menjaga secara kondusif di Kabupaten Lahat. Awalnya, saya sempat di telepon oleh Pemuda Islam untuk ikut melakukan unjuk rasa terkait Kasus Alung, namun saya beralasan bahwa pada saat itu saya berada di Palembang, ” cetusnya seraya tersenyum. (Din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 5 =