Hakim PN Vonis Pembunuh Hukuman Mati

Pagaralam, jurnalsumatra.com – Majelis hakim PN Pagaralam, menjatuhkan hukuman mati kepada tersangka Tika Herli (33) dan Riko Apriadi (18
“Alhamdulillah, Allahu Akbar,” terak para pengunjung sidang yang sebagian besar keluarga kedua korban, di Pengadilan Negeri Kota Pagaralam, Selasa (20/8/2019).

Sidang  dipimin Majeli Hakim yang diketuai M Martin Helmi didampingi Hakim anggota Agung Hartanto dan Raden Angga.
Ketua Majelis Hakim M Martin Helmy  dalam persidangan menginginkan kedua terdakwa terbukti sudah melakukan perencanaan kepada korban Poniah dan anaknya Selvia sebanyak empat kali. Dimana, pada saat pembunuhan dilakukan terdakwa dengan terencana, keji, kejam, sadis dan jenazah korban dijatuhkan kedasar Sungai Endikat untuk memastikan korban meninggal dunia.


“Kedua terdakwa dikenakan pasal berlapis,  340 dan pasal perlindungan anak pasal 80 ayat 1. Mereka merencanakan pembunuhan sebanyak empat kali. Keluarga korban tidak memaafkan dan terdakwa juga berbelit-belit memberikan keterangan dalam persidangan,” ujar dia.
Ia mengatakan, persidangan, terungkap perencanan pembunuhan dilakukan pada Senin 10 Desember 2018, perencanaan dilakukan oleh terdakwa Tika yang mengajak terdakwa Riko bahwa ada orang yang berhutang kepada Tika yakni Poniah sehingga tidak mau membayar hutang sebanyak Rp86 juta. Tika mengiming-imingi Riko agar bisa berangkat ke Taiwan sebagai TKI.
“Tika memberi uang kepada Riko untuk membunuh Poniah. Dimana, awal perencanaan pembunuhan Poniah diajak ke Tanjung Tebat bonceng tiga untuk dibunuh namun gagal, lalu Poniah sempat akan dibunuh untuk dijatuhkan dari Jembatan Endikat juga gagal karena lalulintas padat,” kata dia.

Setelah itu, di hari berikutnya terdakwa Tika dan Riko membawa mobil Agya warna silver untuk menjemput Poniah dan anahknya Selvia. Tiba di perkebunan kopi di areal Simpang Embacang korban dihabisi.
“Pada saat itu terdakwa Riko mencekik dan menindih poniah setelah didorong, Riko memukul dada poniah sebanyak tiga kali dan dua kali kearah kepala,” bebernya.

Di dalam mobil Jefri memegang anak poniah, lalu Jefri membawa anak poniah keluar menuju ke belakang mobil. Lalu, Riko memukul anak poniah tiga kali dan Jefri membekap mulut dan memukul Sevia hingga keluar darah.

“Setelah menghabisi Selvia, Riko lalu mengecek Poniah yang sudah tak berdaya lalu melilitnya dengan ikat pinggang untuk memastikan Poniah sudah meninggal dunia. Lalu poniah diseret kemobil dengan dililit ikat pinggang dimasukan kedalam mobil,” kata dia.

Setelah itu, jenazah dibawa ke Jembatan Endikat untuk dibuang. Jenazah Poniah ditemukan pada Senin 24 Desember 2018 dan jasad Selvia ditemukan Jum’at 28 Desember 2018.
“Pengacara terdakwa meminta waktu untuk pikir-pikir mengajukan banding selama seminggu. Jika lewat waktu tersebut maka putusan sah secara hukum,” ungkap dia(Van)