Hasto: Haluan Negara Harus Bertitik Tolak Dari Akar Budaya Bangsa

Jakarta, jurnalsumatra.com – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengatakan, haluan negara harus bertitik tolak dari akar peradaban dan budaya bangsa Indonesia.

  Dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat, dia mengatakan, haluan negara yang nantinya akan secara formal dibahas di MPR, bukanlah sekedar langkah politik.

  Namun juga sebagai sebuah jalan kebudayaan untuk memastikan masa depan Indonesia untuk 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun ke depan.

  “Maka hal-hal berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, perekonomian, dan lain sebagainya, yang berakar kuat pada kekayaan kebudayaan bangsa, semua akan dibungkus dalam sebuah panduan bernama haluan negara,” ucap dia, saat membuka diskusi ‘Mengangkat dan Membumikan Filsafat, Spiritualitas dan Kebudayaan Asli Nusantara’, di Kantor DPP PDI-Perjuangan, Jakarta, Jumat.

  Menjelang Rapat Kerja Nasional I 2020, DPP PDI Perjuangan pun mengundang sejumlah budayawan dan akademisi untuk berdiskusi tentang kebudayaan dengan mengambil Candi Borobudur sebagai contoh kajian.

  Pembicara diskusi antara lain, budayawan M Sobari, Romo Mudji Sutrisno, dan arsitek-peneliti relief Candi Borobudur, Salim Lee, sebagai pembicara utama.

  Hasilnya, ada kesepahaman bahwa lebih strategis bagi Indonesia untuk mendasarkan pembangunan ke depan dengan selalu berakar pada kebudayaan sendiri.

  Kristiyanto menyatakan topik diskusi itu diangkat karena PDI Perjuangan merasa bertanggung jawab merumuskan haluan negara. Dan ajang rakernas nanti menjadi salah satu wahana puncaknya dengan mengundang perwakilan dari seluruh Indonesia.

  “Ini memang bukan jalan mudah. Tapi paling tidak, bila bertumpu pada kebudayaan kita, kita takkan kehilangan arah atas jalan bangsa kita ke depan. Boleh teknologi ada. Tapi teknologi apa yang mau dikembangkan? Bagi kami, haluan negara adalah wujud Indonesia berkepribadian di dalam kebudayaan itu,” jelasnya.

  Namun apakah kebudayaan Indonesia patut untuk menjadi dasar membangun masa depan? Tidakkah kita cukup mencontek kebudayaan barat saja?

  Lee lalu memaparkan Candi Borobudur sebagai perwujudan bahwa di masa lalu, leluhur bangsa Indonesia saat ini begitu luar biasa. Pada abad lampau itu, nenek moyang sudah menguasai teknik luar biasa.

  Namun bukan hanya teknik, ternyata estetika dan seni rupa yang terwujud di candi itu menggambarkan kemantapan serta kebudayaan Nusantara yang ramah, akomodatif, kokoh dan tegar, terbuka dan toleran.

  “Semua yang ada mengandung filosofi hidup tingkat tinggi. Borobudur mencerminkan keagungan kebudayaan Nusantara, ajaran-ajaran yang memberi haluan dan pandangan hidup sebagai pedoman untuk hidup secara optimal,” ulas Lee, yang juga pengajar nilai-nilai filsafat dan spiritual Borobudur.

  Maka bagi dia, tak ada alasan untuk menolak kekayaan budaya itu sebagai patokan pembangunan bangsa masa kini untuk masa depan

  Salah satu penanggap, Otong Toyibin Wiranatakusumah yang merupakan ketua Rukun Wargi Bandung, mengatakan, orang Indonesia saat ini kerap melupakan leluhurnya sendiri. Dan justru lebih menerima pengaruh asing yang menyingkirkan budaya sendiri.

  “Padahal kalau kita mau jujur, kekecauan negara saat ini yang disebabkan kekacauan politik berdampak pada ekonomo dan sosial serta aspek-aspek lainnya, apakah bukan karena kita salah memilih, yakni enggan memastikan akar budaya bangsa sebagai akar arah pembangunan?” kata dia.

  “Di saat kita hendak mewujudkan Indonesia baru yang berjiwa Nusantara, ini saatnya kita mengakui kembali kebesaran dan kebijaksaan para leluhur kita,” ujarnya.

  Sementara Sutrisno memaparkan banyak hal mengenai perlunya menggali kearifan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalam warisan budaya. Inti paling pokoknya, bahwa Indonesia ke depan harus berpijak kepada nilai yang berguna, bermanfaat, bagi kehidupan.

  “Jadi apa yang baik, benar, suci, yang indah, yang dihayati oleh local genius dan kita sebagai bangsa, itulah Pancasila itu,” kata Romo Mudji, yang merupakan penulis buku Filsafat Nusantara.

  Kristiyanto lalu memuncaki bahwa pendapat para pakar dan tokoh itu semakin menguatkan bahwa haluan negara harus berbasis kepada kekayaan budaya bangsa Indonesia sendiri. Salah satunya adalah kekayaan pangan dan rempah-rempah yang dimiliki Nusantara.

  Di rakernas nanti, PDIP akan mendalami dan merumuskan bagaimana kekayaan budaya ini menjadi basis pengembangan industri. Maka itu, pengembangan industri yang dibayangkan hingga 100 tahun ke depan adalah industri pangan, sandang, dan papan: industri bahan baku industri: industri energi; dan industri farmasi.

  “Bahwa di dalam hal pangan dan bumbu-bumbuan, kekayaan hayati kita di dalam laut, kita bisa kaya tanpa harus menambang yang sebenarnya merusak lingkungan kita,” ujar dia.

  Di acara diskusi itu, hadir juga sejumlah anggota DPR dari PDI Perjuangan. Seperti Puti Guntur Soekarno, Vita Ervina, Rano Karno, Aria Bima, dan Ribka Tjiptaning.(anjas)