“IBU” Malang Gelar Festival Kenalkan Budaya Nusantara

     Malang, jurnalsumatra.com – Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Budi Utomo (“IBU”) Malang menggelar Festival Budaya Nusantara untuk mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya Tanah Air kepada mahasiswa kampus tersebut.
Rektor IBU Dr  Nurcholis Sunuyeko di Malang, Jawa Timur, Selasa mengatakan, selain itu  juga sebagai upaya untuk menjaga kebhinekaan dan ke-Indonesia-an di lingkungan mahasiswa yang beragam dengan latar belakang budaya, tradisi dan bahasa daerah yang berbeda.
“Lewat Festival Budaya Nusantara yang digelar pada Januari ini diharapkan antara mahasiswa dari daerah yang berbeda itu bisa saling memahami dan mengapresiasi budaya mahasiswa dari daerah lain, bahkan mereka harus menyajikan budaya daerah lain, bukan dari daerahnya sendiri,” katanya.
Ia mencontohkan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak boleh menyanyikan lagu atau menampilkan tari (budaya) asal daerah tersebut, tetapi harus dari daerah lain, seperti Pulau Jawa, Bali, Papua dan lainnya. Demikian juga sebaliknya.
Dengan demikian, katanya, antarmahasiswa bisa saling memahami, menghargai, dan saling menghormati adat-istiadat, serta budaya temannya yang berasal dari luar daerahnya. Selain itu, semangat kebhinekaan bisa dirawat, dijaga, bahkan dikembangkan.

Hal itu penting, kata Nurcholis, karena IBU merupakan kampus yang menjadi salah satu tujuan tempat belajar generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia. “Jadi ibaratnya, IBU merupakan miniatur dari Indonesia yang beragam suku, adat, agama, dan budaya,” tuturnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, menjaga dan melestarikan IBU ibaratnya menjaga dan melestarikan Indonesia. Begitu juga sebaliknya. Sehingga, mahasiswa dan dosen di IBU harus bahu membahu dan bekerja sama dalam menjaga keutuhan kebhinekaan dan ke-Indonesia-an di lingkungan kampus IBU agar tetap kuat dan lestari.
Akan tetapi, katanya, bukan berarti IBU hanya berpijak pada masa lalu. IBU juga memikirkan tingkat kompetensi lulusannya saat menghadapi perkembangan dan perubahan zaman yang dikuasai oleh teknologi informasi.
“Untuk meningkatkan kompetensi lulusan agar bisa bersaing di dunia global, IBU mengadopsi sistem pembelajaran yang berbasis teknologi informasi melalui sistem pembelajaran digital dan meninggalkan sistem pembelajaran berbasis kertas, paperless diganti dengan peralatan digital. Mahasiswa menggunakan tab saat mengikuti kegiatan belajar mengajar,” ujarnya.
Dengan cara itu, lulusan IBU telah siap menghadapi perkembangan dan perubahan dunia global yang ditandai dengan maraknya penggunaan digital dan teknologi informasi, sehingga lulusan IBU bisa bersaing dengan lulusan negara-negara tetangga tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai tenaga pendidik dengan identitas kuat sebagai bangsa Indonesia.
“Jadi kita harus maju tanpa harus kehilangan jati diri sebagai bangsa yang besar dengan beragam budaya, adat istiadat, agama, serta bahasa daerah,” katanya.(anjas)

Leave a Reply