Indonesia dan Azerbaijan Hubungan Antarperadaban dan Budaya


Yogyakarta, jurnalsumatra.com –  Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Dr H Kasiyarno, M.Hum bersama Ketua BPH UAD Prof Dr H Yunahar Ilyas, Lc, MAg, belum lama ini berkunjung ke negara Azerbaijan untuk mengadakan nota kesepahaman (memorandum of understanding) dengan beberapa kampus.

“Ini merupakan satu upaya UAD mewujudkan visinya menjadi perguruan tinggi yang diakui secara internasional dengan nilai moral dan nilai Islami,” kata Kasiyarno.

Diceritakan Kasiyarno, di tengah-tengah kesibukannya Dubes RI Azerbaijan masih menyempatkan diri untuk menghormati tamu. “Dengan cara menjemput dan mengantar sendiri tamu dari UAD Yogyakarta,” kata Kasiyarno, yang mengaku sangat terkesan dengan keluhuran budi, kerendahan hati dan ketulusan pribadi Dubes RI Azerbaijan.

Berkaitan dengan hal itu, Dubes LBBP RI untuk Republik Azerbaijan berkedudukan di Baku, Prof Dr H Husnan Bey Fananie, MA mengadakan kunjungan balasan sekaligus sampaikan kuliah umum di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di Kampus Utama UAD Jl Ring Road Selatan, Tamanan, Bantul, Rabu (17/7/2019) siang, didampingi Prof Dr H Mifedwil Jandra, M.Ag, Prof Dr H Yunahar Ilyas, Lc, MAg, dan Dr H Untung Cahyono, M.Hum.

Bagi Kasiyarno, kehadiran Husnan Bey Fananie sebagai tamu sangat luar biasa. “Saya mengucapkan selamat datang di UAD dan saya sangat berbahagia karena bisa memenuhi undangan UAD,” kata Kasiyarno sambil menjelaskan ketika berada di Azerbaijan pihaknya mengadakan kerjasama dengan perguruan tinggi: bahasa, teknologi, pendidikan, dan studi Islam.

“Selain itu saya prihatin dengan negara yang lama dijajah Rusia karena banyak saudara kita umat Islam,” kata Kasiyarno.

Rektor UAD Yogyakarta lantas terketuk dengan memberi beasiswa kepada sepuluh orang mahasiswa dari Azerbaijan yang siap tinggal di Pesantren Mahasiswa KH Ahmad Dahlan serta mau mengikuti kegiatan Persada UAD. 

“Nantinya bisa jadi kader dai yang siap menyebarkan agama Islam di Azerbaijan,” kata Kasiyarno, yang menambahkan UAD Yogyakarta membantu agar penduduk Azerbaijan bisa jadi Islam yang kaffah.

Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Prof Dr Husnan Bey Fananie, MA ketika mengawali kuliah umum tentang Indonesia dan Azerbaijan: Hubungan Antar Peradaban dan Budaya, mengatakan, UAD sudah tidak asing lagi dan seperti keluarga sendiri. “Terimakasih sudah disambut dengan baik,” kata Husnan Bey Fananie, yang dilantik Presiden Joko Widodo pada 13 Januari 2016 bersama 12 Dubes LBBP lainnya.

Kedatangannya ke UAD Yogyakarta, Husnan Bey Fananie juga sampaikan MoU dan beberapa buku kepada Rektor UAD Kasiyarno.

Di awal paparannya, menjadi Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Azerbaijan adalah kebanggaan bagi laki-laki kelahiran Jakarta, 13 November 1967.

Menurutnya, Azerbaijan adalah sebuah negara di Asia Barat Daya. “Seperti Indonesia, mayoritas masyarakat Azerbaijan adalah muslim dan kita seperti saudara yang jauh secara geografis tapi dekat secara kultur,” kata Husnan Bey Fananie.

Dan kedekatan secara kultur inilah yang menjadi salah satu modal utama Husnan dalam memainkan perannya sebagai duta besar. Secara perlahan, kultur Islam khas Indonesia dikenalkannya kepada masyarakat Azerbaijan yang mayoritas adalah muslim syiah.

Kedekatan historis antara Indonesia dan Azerbaijan juga menjadi latar belakang Indonesia cepat mengakui kedaulatan Azerbaijan, yang menjadi persilangan antara Rusia, Eropa, Asia dan Timur Tengah, yang berdiri pertama kali pada tahun 1918-1920.

“Secara ekonomi, Azerbaijan negara kaya penghasil minyak dan gas bumi, salah satu pengekspor ke Indonesia,” papar Husnan Bey Fananie.

Bagi Husnan, pengenalan mengenai Azerbaijan sangat penting dan bermanfaat bagi perkembangan hubungan kerjasama di berbagai bidang. “Termasuk dalam pengembangan pendidikan,” tandas Husnan yang memperkenalkan kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan politik dari negara Azerbaijan.

Azerbaijan, sebuah negara yang kaya akan minyak di Kaukasus Selatan, telah muncul sebagai salah satu pemasok utama minyak mentah ke Indonesia setelah Arab Saudi.

Husnan menjelaskan, negara yang berada di dataran rendah Pegunungan Kaukasus itu menyimpan banyak sejarah kerajaan: Seljuk, Ottoman, Syafawi, hingga Byzantium. “Banyak peninggalan yang bisa kita lihat,”  kata Husnan yang menerangkan di antara peninggalan itu ternyata memiliki hubungan erat dengan Indonesia. (Affan)