Jateng Bagian Tengah Masuki Puncak Musim Hujan

     Cilacap,jurnalsumatra.com – Wilayah Jawa Tengah bagian tengah diprakirakan memasuki puncak musim hujan pada bulan Desember, kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo.
“Berdasarkan peta prakiraan curah hujan yang dikeluarkan Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Semarang, curah hujan pada bulan Desember di wilayah Jateng bagian tengah diprakirakan lebih dari 500 milimeter sehingga tergolong sangat tinggi,” katanya di Cilacap, Senin.
Ia mengatakan wilayah Jateng bagian tengah yang curah hujannya diprakirakan lebih dari 500 milimeter di antaranya sebagian besar Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga bagian utara-timur, Wonosobo bagian barat-selatan, Purworejo bagian utara, Magelang bagian barat, Batang bagian barat-selatan, Pekalongan bagian tengah-selatan, dan Pemalang bagian timur-selatan.
Selain di wilayah Jateng bagian tengah, curah hujan lebih dari 500 milimeter diprakirakan juga berpotensi di Kabupaten Cilacap bagian timur.
Sementara curah hujan bulan Desember di Kabupaten Banyumas, Cilacap bagian barat-utara, Purbalingga bagian selatan, Kebumen bagian barat dan timur, sebagian wilayah barat Purworejo, Brebes bagian selatan, Tegal bagian selatan, Pemalang bagian barat, Wonosobo bagian timur, serta Temanggung diprakirakan berkisar 401-500 milimeter.
Terkait dengan prakiraan curah hujan tersebut, Teguh mengimbau masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana itu saat turun hujan dengan intensitas tinggi.
Disinggung mengenai realisasi curah hujan di kota Cilacap pada bulan November, dia mengatakan berdasarkan pencatatan yang dilakukan di Kantor Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap tercatat sebanyak 306 milimeter dengan 22 hari hujan.
“Curah hujan tersebut sesuai dengan prediksi yang berkisar 300-500 milimeter,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut jauh berbeda dengan curah hujan bulan Oktober yang diprediksi berkisar 150-300 milimeter namun berdasarkan pencatatan di Kantor Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap mencapai 836 milimeter dengan 24 hari hujan, dua hari di antaranya tergolong ekstrem, yakni pada tanggal 6 Oktober mencapai 172 milimeter dan 16 Oktober mencapai 179 milimeter.
Bahkan berdasarkan pencatatan di Bandara Tunggul Wulung, Jeruklegi, Cilacap, curah hujan selama bulan Oktober mencapai 1.045 milimeter dengan 25 hari hujan, tiga hari di antaranya masuk kategori ekstrem, yakni pada tanggal 4 Oktober sebesar 121,7 milimeter, 6 Oktober sebesar 298 milimeter, dan 29 Oktober sebesar 250 milimeter.
“Pada bulan November memang terjadi dua badai (siklon tropis, red.) di perairan selatan Pulau Jawa yang berpotensi mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Namun ternyata dampak yang dirasakan di Cilacap lebih pada angin kencang dan peningkatan tinggi gelombang,” katanya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + six =