JPPI Soroti Lulusan SMK Menganggur

   Jakarta, jurnalsumatra.com – Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Abdul Waidl menyoroti sistem pendidikan Indonesia yang memberi dampak banyaknya lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menganggur.
“Perlu perubahan revolusioner terhadap sistem pendidikan,” kata Abdul dalam diskusi bertema “SMK Cetak Pengangguran, Apa yang Salah?” di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan sistem pendidikan yang ada saat ini memiliki durasi belajar yang lama, seperti adanya kebijakan wajib belajar 12 tahun.
Hal serupa, kata dia, juga terjadi pada seorang yang yang ingin meraih gelar doktor membutuhkan waktu 25 tahun.
Untuk itu, dia berharap pemerintah dan unsur terkait untuk melakukan perubahan terhadap kebijakan yang memicu lamanya durasi belajar.
Menurut dia, waktu belajar siswa seharusnya tidak terlalu lama termasuk bagi pelajar SMK.
“Anak Indonesia hampir sekolah terus. Sekolah formal tidak perlu terlalu lama. Sekolah seharusnya memperkuat dasar-dasar pengetahuan tidak terlalu lama,” kata dia.
Dengan waktu belajar yang lebih sedikit, kata dia, sisa waktu seharusnya dapat dioptimalkan untuk memperkuat kecakapannya.
“Perlu memadatkan mata pelajaran umum untuk mendukung pelajaran kejuruan dan minimal bisa satu bahasa asing,” kata dia.
Hal itu, kata dia, dapat memperkuat keterampilan siswa SMK sehingga lulusannya tidak menganggur dan dapat cepat terserap dunia kerja terutama di dunia industri yang terus berevolusi.
Dia mengatakan ilmu pengetahuan berkembang cepat. Sementara kurikulum di SMK mudah usang dan tertinggal.

    “Saat belajar teknologi informasi dengan kurikulum saat ini, saat lulus nanti dunia teknologi sudah berubah. Sementara yang dipelajari adalah teknologi yang sudah usang,” kata dia.
Singkat kata, Abdul mengusulkan agar sistem pendidikan di Indonesia tidak terjebak pada sekolah formal tapi informal yang menguatkan keterampilan.
Pemerintah, kata dia, juga harus melakukan kebijakan yang baik untuk sekolah kejuruan lewat penganggaran yang baik.
Penganggaran yang baik, lanjut dia, seperti untuk menambah alat praktik penunjang belajar siswa SMK. Penambahan jumlah peralatan sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Dia juga menekankan perlunya kerja sama SMK dengan pihak industri sehingga lulusannya dapat padu dan padan dengan kebutuhan dunia kerja.
Dari aspek pendidik siswa SMK, kata dia, perlu adanya peningkatan kemampuan pada pendidikan dan pelatihan vokasi agar tidak hanya memahami teori tapi juga dapat memberikan pengajaran praktik.
“Jangan terus-terusan lulusan sarjana agama kemudian jadi guru teknik, mekanik dan semacamnya. Sementara lulusan perguruan tinggi teknik justru harus tidak mengajar lagi karena promosi jabatan. Akibatnya, siswa SMK tidak diajar oleh para spesialis berkemampuan di bidangnya,” kata dia.(anjas)

Leave a Reply