Karakteristik Negara Tropis Berbeda dengan Wilayah Lain


Yogyakarta, jurnalsumatra.com –  Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 4-8 Maret 2019 adakan International Tropical Farming Summer School (ITFSS) di Gedung Kasman Singodimedjo. Pembukaan dilaksanakan Senin (4/3/2019) di Amphitheater Lantai 4 Pascasarjana UMY.

Kegiatan kali ke empat itu merupakan program summer school yang bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa terkait permasalahan tropis. Selain itu diharapkan mahasiswa mampu memecahkan masalah pertanian tropis.

Pertanian tropis dapat didefinisikan sebagai aktivitas pertanian yang dilakukan di negara tropis yang menghasilkan produk pertanian. Dan sistem budidaya di daerah tropis, berbeda dari daerah lain seperti daerah beriklim sedang atau sub tropis. Juga kondisi alam, ekonomi dan sosio-institusional dari produksi pertanian sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dan selama periode waktu tertentu.

Duta Besar Thailand untuk Indonesia HE Mr Songphol Sukchan dalam pembukaan itu mengatakan, negara yang masuk dalam wilayah tropis memiliki karakteristik sistem pertanian yang cukup berbeda dengan wilayah lainnya. 

“Mulai dari aspek natural seperti temperatur wilayah dan jenis tanaman hingga aspek sosio ekonomi yang berkaitan dengan institusi dan masyarakat,” kata HE Mr Songphol Sukchan.

Hal itulah, kata HE Mr Songphol Sukchan, yang menjadi fokus bahasan dalam pertanian tropikal. “Salah satu isu terkini yang perlu pula untuk dibahas adalah bagaimana menciptakan sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan,” papar HE Songphol Sukchan, Duta Besar Kerajaan Thailand untuk Indonesia.

Songphol menyebutkan, pertanian yang berkelanjutan harus menjadi perhatian utama bagi negara yang berada dalam wilayah tropis, seperti Thailand dan Indonesia. “Ini karena sistem pertanian yang diterapkan di negara kita berbeda dengan teknologi yang berkembang di Barat,” tandas Songphol Sukchan.

Dengan perkembangan yang ada, menurut Songphol Sukchan, kita harus dapat melahirkan inovasi yang sesuai untuk menciptakan sistem pertanian berkelanjutan yang tepat guna di wilayah tropis. “Ini agar seluruh aspek yang terdapat dalam kegiatan pertanian yang kita lakukan dapat menjadi sumber kesejahteraan, terutama untuk negara dan masyarakat,” ujar Songphol.

Pada kesempatan itu Songphol menyampaikan salah satu prinsip yang harus dipenuhi dalam sistem pertanian berkelanjutan adalah resiliency. “Dengan cepatnya perubahan yang terjadi saat ini, harus ada persiapan untuk dapat mengatasinya,” papar Songphol. 

Karenanya, kemampuan untuk mengidentifikasi, meramalkan serta mengevaluasi bahaya yang mungkin terjadi di masa depan agar negara dapat segera pulih kembali sangat dibutuhkan. 

“Apabila kebijakan yang menekankan pada hal ini dilaksanakan, saya yakin tujuan kita untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dalam aspek pertanian akan lebih mudah terwujud,” kata Songphol.

Adapun target dari pertanian berkelanjutan adalah manfaat yang optimal, bukan pada manfaat yang maksimal. Karenanya, aspek seperti rehabilitasi, konservasi, dan kemandirian merupakan hal yang ditekankan.

“Kegiatan ini merupakan cerminan dari komitmen kita dalam memberikan solusi untuk kehidupan yang lebih baik,” pungkas Songphol. 

Dijelaskan Sekretaris Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian UMY Dina Wahyu Trisnawati, SP, M.Agr, PhD, kegiatan ini adalah program sekolah musim panas yang cukup unik. “Karena menggabungkan kegiatan akademik dan mahasiswa,” kata Dina Wahyu Trisnawati, yang menambahkan ITFSS yang memiliki dua kegiatan utama:  akademik dan pariwisats (program sosial)) diikuti 25 mahasiswa dari 4 negara: Jepang (13 mahasiswa), Spanyol (2 mahasiswa), Thailand (2 mahasiswa), dan Indonesia (8 mahasiswa).

Topik utama kegiatan akademik meliputi: agroekosisten tropis, sistem pertanian terpadu, dan pengelolaan limbah pertanian. Selain itu ada ceramah para ahli, mengadakan turorial, diskusi pleno, kunjungan lapangan, pekerjaan laboratorium dan mengunjungi daerah pertanian tropis.

Sedangkan dalam program sosial, peserta diajak kunjungi tempat budaya di Yogyakarta: Keraton Yogyakarta, Candi Borobudur dan sebagainya. 

Dalam proses mengadaptasi pola tanam dan praktik pertanian dengan kondisi masing-masing lokasi dan tujuan petani, kurang lebih jenis organisasi pertanian yang berbeda telah berkembang.

Faktanya, tidak ada pertanian yang diatur persis seperti yang lainnya. Namun untuk tujuan pengembangan pertanian, untuk merancang langkah-langkah yang berarti dalam kebijakan pertanian, perlu untuk mengklasifikasikan pertanian sesuai dengan karakteristik manajemen pertanian mereka.

Praktik pertanian di wilayah tropis dapat diklasifikasikan seperti agroekosistem tropis, sistem pertanian terintegrasi dan pengelolaan limbah. (Affan)

Leave a Reply