Karimun Terapkan Tunjangan Kinerja Berbasis TI

    Karimun, Kepri, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, menerapkan penghitungan tunjangan kinerja berbasiskan teknologi informasi yang terhubung dengan Badan Kepegawaian Daerah.
“Saat ini sudah mulai, pada 2019 nanti secara keseluruhan setiap OPD melaksanakan sistem tunjangan kinerja (tukin) itu,” kata Kepala Badan Kepegawaian Daerah Karimun MS Sudarmadi di Tanjung Balai Karimun, Rabu.
Penerapan tukin, kata Sudarmadi, untuk memastikan kedisiplinan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintahan Kabupaten Karimun, baik dalam tugas keseharian maupun dalam menunaikan kewajiban sebagai ASN.
Tukin juga bergantung pada tingkat kehadiran dan kedisiplinan masing-masing ASN.
“Mau tidak mau harus disiplin, apakah itu kehadiran apel sore, apel pagi dan lain-lain lagi,” katanya.
Ia mengatakan beberapa OPD telah melaksanakan presensi elektrik melalui mesi “fingerprint”. Pihaknya akan mengupayakan dalam tahun berjalan, mesin tersebut akan langsung terkoneksi ke BKD.
“Pada tahun 2018 ini diusahakan ‘fingerprint’ itu langsung terkoneksi ke kita,” katanya.

Koneksi tersebut, katanya, selanjutnya langsung terdeteksi oleh bagian keuangan pemerintah setempat, hal ini akan berimbas pada tunjangan ASN yang indisipliner.
“Jadi dinas-dinas yang telah melaksanakan Tukin, nanti dari sistem tersebut akan langsung memotong sendiri. Pemotongan Tukin tentu sesuai dengan peraturan yang berlaku,” katanya.
Ia memastikan pemotongan tunjangan kinerja tersebut dilakukan kepada oknum yang indisipliner yang bervariatif, mulai dari 0,2 persen, 0,25 persen sampai 0,3 persen dari tunjangan.
Saat ini OPD yang telah melaksanakan “fingerprint” ialah Sekretariat Daerah, Inspektorat, BKD, Bappeda, Keuangan dan Badan Perizinan dan Penanaman Modal Terpadu.
“Nanti 2019 semua sudah dilaksanakan sampai ke kecamatan,” katanya.
Sistem presensi elektrik ini, menurut dia untuk mencegah praktik indisipliner ASN, yang sebelumnya dilakukan dengan cara manual oleh dinasnya masing-masing.
Sistem ini akan lebih efektif, sebab selain yang bersangkutan mesin tersebut akan secara otomatis menolak data kehadiran atau tugas para ASN yang mencoba melakukan manipulasi.
“Karena langsung menggunakan sidik jari dan data pribadi. Jadi tidak bisa lagi absennya dititip ke kawan satu kantor, kalau mau titip ya harus sekalian dengan jarinya,” katanya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =