Kementan Dorong Petani Menanam Padi Varietas Unggul

    Bantul, jurnalsumatra.com – Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mendorong petani menanam padi varietas unggul baru untuk meningkatkan produksi tanaman pangan itu.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan Muhammad Syakir di Kabupaten Bantul, DIY, Senin, mengatakan dorongan penanaman padi varietas unggul baru itu salah satunya dilakukan dengan pemberian benih Inpari 30 kelas SS kepada Kelompok Tani Samben Desa Argomulyo, Sedayu.

“Harapannya dengan penanaman varietas baru Inpari 30 ini nantinya produksi dan produktivitas padi dapat meningkat,” katanya di sela safari panen raya padi seluas 25 hektare di Bulak Samben Desa Argomulyo Sedayu itu.

Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Samben tersebut sebelumnya menanam padi verietas unggul Ciherang, dan berdasarkan hasil ubinan produktivitas yang dipanen saat ini sekitar 8,1 ton gabah kering panen per hektare.

Untuk memaksimalkan produksi padi, lanjut dia, melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta mendampingi petani untuk melakukan Upaya Khusus (Upsus) di antaranya dengan teknologi jajar legowo dan penanaman varietas unggul baru.

“Harapannya, Kepala BPTP Balitbangtan sebagai penanggung jawab Upsus di empat kabupaten dan satu kota di DIY ke depan, produktivitas padi dapat meningkat,” kata Muhammad Syakir.

Safari panen padi di Jawa terutama di DIY itu, juga dihadiri perwakilan Badan Urusan Logistik (Bulog), sehingga Kementan berharap hasil panen nantinya dapat diserap secara maksimal oleh Bulog.

“Kehadiran Bulog pada panen ini, harapannya adalah hasil panen yang melimpah di bulan Januari sampai Maret 2018 dapat diserap sesuai target serapan Bulog yang ditetapkan pemerintah untuk keamanan stok pangan nasional,” katanya.

Selain itu, kata dia, serapan oleh Bulog diharapkan memberi jaminan kepada petani untuk mendapatkan harga penjualan gabah kering panen yang menguntungkan bagi petani.

Kepala Badan Litbang juga mengatakan paradigma lama bahwa bulan Desember dan Januari seperti ini biasanya paceklik telah diubah menjadi paradigma baru yaitu panen padi tiap hari dan tanam padi tiap hari.

“Seperti halnya hari ini, merupakan bukti bahwa impor beras tidak perlu lagi. Dan ini berkat sinergiitas antara pemerintah pusat dan daerah yang mendukung kegiatan swasembada khususnya padi berkelanjutan,” katanya.(anjas)

Leave a Reply