Kemnaker Sosialisasikan Hubungan Industrial Kepada Pelajar

     Jakarta, jurnalsumatra.com – Kementerian Ketenagakerjaan melakukan sosialisasi di kalangan dunia pendidikan tentang hubungan industrial antara perusahaan dan pekerja terutama kepada pelajar dan masyarakat.
Dirjen Perselisihan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI Jamsos) Kemnaker Haiyani Rumondang, melalui siaran pers di Jakarta, Selasa, mengatakan, melalui pemasyarakatan hubungan industrial kepada calon angkatan kerja, diharapkan ketika memasuki dunia kerja, sudah dapat memahami hak dan kewajibannya sebagai pekerja.
Kegiatan pemasyarakatan yang dihadiri oleh 300 siswa terdiri dari 6 SMK dan 21 Perguruan Tinggi dari Kota Bekasi.
Haiyani menegaskan Kemnaker perlu memberikan pemasyarakatan dan bertatap muka memberikan informasi hubungan industrial sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam menyambut bonus demografi pada 2020-2030.
Tingginya populasi usia produktif tersebut dapat memberikan efek positif terhadap daya saing bangsa.
“Adik-adik lah yang akan mengisi bonus demografi 2020-2030 nanti, yakni saat melimpah ruahnya angkatan kerja produktif, tenaga kerja produktif usia 15-60 tahun, ” kata dia.
Haiyani mengatakan  tantangan menghadapi bonus demografi adalah bagaimana menyiapkan investasi SDM sebaik mungkin.

“Kalau adik-adik tidak mampu menghadapi itu, nanti Indonesia menjadi negara yang tidak berdaya saing dengan negara-negara lain, ” katanya.
Untuk menghadapi persaingan angkatan kerja kata Haiyani, persiapan awalnya adalah mempersiapkan diri sendiri,  termasuk memanfaatkan perangkat teknologi mutakhir untuk mengembangkan produktivitas dan meningkatkan keterampilan kerja.
Selain itu, paling utama juga menambah ketrampilan bahasa asing disamping bahasa daerah dan bahasa Indonesia.
Haiyani menjelaskan bahwa  hubungan industrial adalah hubungan antara pekerja dengan majikan atau pengusaha atau pemberi kerjanya. Diantara dua pihak itu, ada pemerintah yang memfasilitasi atau mempertemukan pihak pekerja dan pengusaha jika terjadi konflik kedua pihak tersebut.
Ketika ingin bekerja, ada persyaratan dan perjanjian-perjanjian yang harus ditandatangani oleh pekerja. Kalau sudah bekerja dan ada konflik internal antara pekerja dengan majikan, ada prosedur untuk menyelesaikan perselisihan kerja.
“Ketika nanti masuk dunia kerja, ada juga yang disebut Serikat Pekerja/ Serikat Buruh (SP/SB) yang menjadi organisasi pekerja/buruh.  Saat diajak, harus tahu siapa yang mengajak, apa manfaatnya bergabung dan bagaimana positif untuk peningkatan kesejahteraan pekerja. Itu semua ada aturannya, ” kata dia.(anjas)

Leave a Reply