Kotim Sosialisasikan Eliminasi Penyakit Kaki Gajah

Sampit, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melakukan sosialisasi program eliminasi penyakit kaki gajah agar daerah ini bebas dari penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan nyamuk.
“Sosialisasi ini sebagai salah satu upaya kami memberi pemahaman dan mengajak masyarakat agar mau meminum obat kaki gajah. Kami juga bekerja sama dengan lurah dan ketua RT melakukan berbagai kegiatan mengajak masyarakat meminum obat kaki gajah,” kata Kepala Puskesmas Baamang I Supriadi di Sampit, Rabu.
Puskesmas Baamang I menggelar sosialisasi pelaksanaan Bulan Eliminasi Penyakit Kaki Gajah atau Belkaga yang dihadiri puluhan ketua RT, tokoh masyarakat dan tokoh perempuan setempat.
Menurut Supriadi, masyarakat harus meminum obat tersebut agar terhindar dari penyakit kaki gajah atau filariasis.
“Program minum obat kaki gajah ini dilaksanakan selama lima tahun dan tahun ini merupakan tahun keempat dilaksanakan di Kotawaringin Timur,” katanya.
Dia mengatakan penyakit kaki gajah diberikan kepada warga berusia 2 sampai 70 tahun. Namun, orang yang menderita penyakit serius seperti tekanan darah tinggi, jantung, tubercolosis, asma, gagal ginjal, epilepsi, gagal ginjal dan penyakit parah lain, serta perempuan yang sedang hamil, tidak diperkenankan meminum obat kaki gajah karena dikhawatirkan menimbulkan dampak lain.
“Obat kaki gajah diberikan secara gratis kepada masyarakat karena pengadaannya dibiayai pemerintah. Kami berharap seluruh masyarakat mendukung upaya pencegahan penyakit kaki gajah ini,” harap Supriadi yang juga konselor nasional HIV/AIDS.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotim, Bakhrudin yang dihadirkan dalam sosialisasi tersebut mengatakan, obat yang diminum tersebut bermanfaat mencegah kaki gajah dan penyakit cacingan lainnya.

“Kalau ada reaksi setelah meminum obat, itu hal wajar. Jangan takut. Semakin banyak cacing mati maka semakin besar reaksinya seperti pusing, mual, diare, keluar cacing dan lainnya. Bisa dibawa ke petugas medis. Reaksi bisa terjadi umumnya tiga hari dan bisa sembuh sendiri,” ujar Bakhrudin.
Langkah pencegahan juga harus dilakukan, seperti memberantas sarang nyamuk karena penyakit kaki gajah bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk. Jika ada yang menderita kaki gajah, masyarakat diminta tidak mengucilkan penderita karena bisa berdampak buruk kepada penderita.
Berdasarkan data capaian target jumlah penduduk Kotim yang meminum obat kaki gajah pada 2015 lalu sebanyak 83,42 persen, 2016 sebanyak 88,91 persen dan 2017 sebanyak 90,39 persen. Tahun ini dan berakhir pada 2019, jumlah warga yang meminum obat kaki gajah diharapkan terus bertambah.
“Targetnya, minimal 75 persen sasaran meminum obat kaki gajah. Saat ini sudah di atas 70 persen dari sasaran. Sekolah diminta menanyakan kepada siswa. Kalau mereka belum meminum obat kaki gajah, guru diminta mendorong orangtua minta obat ke Puskesmas,” harap Bakhrudin.
Ketua Karang Taruna Provinsi Kalteng Abdul Hafid yang hadir dalam acara itu, sangat mendukung pemerintah daerah untuk terus gencar mensosialisasikan dan mengajak masyarakat meminum obat kaki gajah. Penyakit ini berdampak serius karena menimbulkan kecacatan, makanya harus dihindari.
“Saya mengajak masyarakat untuk meminum obat kaki gajah sebagai langkah pencegahan. Tidak hanya di Kotawaringin Timur, saya juga mengajak warga Karang Taruna di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah membantu mensosialisasikan serta mengajak masyarakat agar meminum obat kaki gajah,” ujar Abdul Hafid.
Camat Baamang HM Yusransyah mengaku sudah meminta seluruh jajarannya, termasuk lurah dan kepala desa untuk tidak hentinya mengajak masyarakat untuk meminum obat kaki gajah. Pendekatan yang baik harus dilakukan dengan baik agar masyarakat bersedia meminum obat tersebut.
“Ini demi kesehatan masyarakat, makanya kami selaku pemerintah tidak boleh bosan mengajak masyarakat. Dampak penyakit ini cukup serius, sehingga harus dicegah,” ujar Yusransyah.
Sementara itu, sosialisasi diisi tanya jawab dengan peserta. Kegiatan ditutup dengan minum obat kaki gajah secara bersama-sama.(anjas)

Leave a Reply