KP2C Serahkan Empat Rekomendasi Restorasi Sungai

Bekasi, jurnalsumatra.com – Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) mengeluarkan empat rekomendasi kepada pemerintah pusat terkait dengan program restorasi Sungai Cileungsi, Cikeas, dan Kali Bekasi.
“Rekomendasi ini kami sampaikan kepada pemerintah pusat melalui Presiden RI Joko Widodo, Sabtu (13/10), agar kondisi di sekitar sungai aman dan nyaman,” kata Ketua KP2C Puarman di Bekasi, Minggu (14/10).
Keempat rekomendasi KP2C itu, normalisasi sungai, penguatan tanggul permanen, pembangunan pintu pengendali air, dan pembangunan waduk di hulu sungai.
Normalisasi di tiga aliran sungai tersebut, kata dia, sebagai kebutuhan mendesak sehingga harus segera dilakukan oleh sejumlah instansi terkait, di antaranya Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) di bawah koordinasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR).
Dia mengatakan DAS Cileungsi dan Kali Bekasi saat ini memiliki bantaran seluas 26.500 hektare yang perlu dinormalisasi.
“Dahulu galah perahu pada 6-7 tahun lalu masih bisa dipakai karena airnya cukup dalam, sekarang sudah tidak bisa,” katanya.
Rekomendasi selanjutnya, kata dia, pembangunan tanggul permanen di sejumlah titik yang rapuh hampir di semua lintasan sungai dari kawasan Cileungsi hingga Kota Bekasi.
“Saat ini tidak ada satu RW pun yang tanggulnya kuat. Selain itu ada pula pintu air tidak berfungsi optimal, posisinya miring atau bocor,” katanya.

Tanggul tersebut diketahui pihaknya dibangun oleh pengembang 25 perumahan di sepanjang bantarannya sejak lama.
“Bahkan di banyak lokasi saat ini sudah rusak atau jebol,” katanya.
Rekomendasi ketiga, kata dia, pembangunan pintu pengendali air yang akan mengatur kecepatan debit dari hulu ke hilir sehingga bisa dikendalikan oleh operator.
“Pintu pengendali air ini perlu dibangun, misalnya di wilayah perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi di Perumahan Vila Nusa Indah dan Kota Wisata. Ada lahan bantaran seluas 30-40 meter persegi yang cocok untuk pintu air dengan kondisi tanah cadas yang kuat,” katanya.
Rekomendasi keempat berupa pembangunan waduk di hulu Sungai Cileungsi sebagai kolam penampungan air saat debit mengalami peningkatan signifikan.
“Di daerah Cileungsi ada lahan yang dulu dikenal dengan nama kawasan Garuda dengan luas dua hektare lebih,” katanya.
Lahan itu berada di wilayah perbatasan antara Cileungsi dan Kelapa Nunggal.
“Saya optimistis bila empat rekomendasi itu direalisasikan bisa mengantisipasi banjir yang selama ini dialami oleh 26 perumahan berpenduduk sekitar 16.000 kepala keluarga di sepanjang bantarannya,” katanya.(anjas)

Leave a Reply