KPU Mahulu Optimistis Partisipasi Pemilih 80 Persen

    Ujoh Bilang, jurnalsumatra.com – Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, optimistis tingkat partisipasi pemilih untuk menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2019 akan naik menjadi 80 persen.        “Dalam Pilkada Provinsi Kaltim saat ini partisipasi pemilih di Mahulu sebesar 62,24 persen, tapi kami optimis dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) yang digabung Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 partisipasinya bisa 80 persen, bahkan bisa lebih,” ujar Komisioner KPU Mahulu Divisi Hukum, Jentra di Long Bagun, Jumat.
Sehari sebelumnya, ditemui setelah Rapat Pleno KPU Mahulu tentang penetapan perolehan suara Pilgub Kaltim 2018, Jentra menjelaskan bahwa keyakinan jumlah pemilih yang bisa terdongkrak pada 2019 karena calon anggota legislatif (caleg) yang akan mereka pilih, merupakan orang-orang dekat masyarakat, khususnya para Caleg Mahulu.
Mahulu, lanjutnya, jumlah penduduknya tidak terlalu banyak karena hanya di kisaran 26.000 jiwa. Dari besaran jumlah penduduk ini, terdapat daftar pemilih tetap (DPT) untuk Pilkada Kaltim dan daftar pemilih sementara (DPS) untuk Pemilu 2019 sebanyak 21.884 orang.

Dari jumlah DPS untuk Pemilu 2019 yang sebanyak itu, mereka yang bakal mencalonkan diri untuk bisa duduk sebagai anggota DPRD Mahulu, kebanyakan masih saling ada hubungan keluarga dengan kelompok masyarakat, karena mayoritas warga Mahalu merupakan penduduk asli sehingga masih ada pertalian darah meski ada yang tinggal di luar desa.
Terkait dengan adanya hubungan kekeluargaan yang masih tinggi baik keluarga jauh maupun keluarga dekat tersebut, lanjut Jentra, maka pemilih bisa dipastikan ingin keluarganya yang jadi caleg bisa mendapat suara banyak agar terpilih menjadi anggota DPRD.
Di sisi lain, meski tidak ada hubungan keluarga pun, tetapi karena jumlah penduduknya tidak banyak, sehingga bisa jadi antara pemilih dan caleg dulunya pernah berteman baik atau akrab, seperti keakraban waktu di SD, SMP, SMA, maupun akrab ketika masih sama-sama dalam kelompok kepemudaan atau di kelompok kemasyarakatan.
“Atas dasar hubungan keluarga maupun keakraban ini, tentu secara emosional mereka akan rela datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) guna memilih sahabat atau keluarganya, sehingga dampak dari ini juga tentu jumlah yang memilih presiden juga banyak karena waktu pemilihannya bersamaan,” ucap Jentra. (anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × three =