KPU Riau Sosialisasikan Pemilu Ke Kampus Cegah Potensi Golput

Pekanbaru, jurnalsumatra.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau menyatakan saat ini puluhan ribu mahasiswa setempat berpotensi untuk Golongan Putih (Golput) saat pelaksanaan Pemilihan serentak 17 April 2019, mengingat mereka terdaftar di tempat asal sesuai KTP, bukan di lokasi perkuliahan.
“Karenanya kami mendatangi kampus-kampus seperti UNRI, UMRI dan lainnya untuk melakukan sosialisasi tentang adanya kebijakan pindah memilih dan daftar pemilih  khusus,” kata Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia KPU Riau Nugroho Noto Susanto kepada antara di Pekanbaru, Rabu.
Potensi golput ini menjadi tantangan bagi KPU untuk memberikan pemahaman dan arahan serta solusi bagaimana kaum milenial tetap bisa menyalurkan hak suaranya saat Pemilu meski berada di perantauan menuntut ilmu.
Menurut Nugroho Noto Susanto bagi yang sudah terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT), maka bisa pindah memilih ke kota Pekanbaru dengan meminta formulir A5. Salah satu syarat pindah memilih, dari beberapa syarat adalah sedang studi di luar alamat E-KTP.
“Informasi terkini, kelompok mahasiswa atau individu mahasiswa saat ini banyak yang ngurus A5,” tuturnya.
KPU juga menerangkan hal ini Kepada wakil rektor, wakil dekan hukum, dan seluruh aktifis tentang pentingnya mahasiswa berkontribusi terhadap praktik demokrasi  yang akan dilaksanakan. Karena demokrasi langsung saat ini, merupakan buah  perjuangan gerakan mahasiswa 1998.
Jika tidak komit, maka sudah menjadi sebuah keniscayaan mahasiswa ikut memelihara, dan membangun demokrasi yang sudah diputuskan tersebut.
“Bayangkan saat ini, satu orang rakyat (pemilih), bisa menentukan pemimpin negara ini secara langsung di TPS. Baik untuk presiden/wakil presiden, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi, atau DPRD kabupaten/kota,” tutur Nugroho.
Ditambahkan Nugroho ada riset tahun 2016, dengan obyek pemilu 2014. Salah satu kelompok yang tidak hadir di TPS saat pemilu adalah mahasiswa.
Kemudian banyak kesaksian dari wawancara yang dilakukan banyak pihak, termasuk informasi dari penyelenggara pemilu, periode pemilu 2014, mahasiswa banyak tak mau hadir di TPS.
Karenanya ia berharap upaya yang dilakukan KPU ini bisa menggugah dan menekan golput di kalangan mahasiswa.
Disebutkan Nugroho dari selama sosialisasi ke kampus, antusiasme mahasiswa sangat tinggi sekali terkait tehnis pemilu 2019. Indikatornya adalah banyaknya yang bertanya. Rata-rata pertanyaannya berkaitan dengan tehnis pencoblosan, prosedur pindah memilih (antar kabupaten dan antar provinsi), dan adanya saran kepada penyelenggara pemilu untuk mencegah terhadap potensi kecurangan politik yakni politik uang.
Selain itu KPU juga menyarankan agar gerakan mahasiswa seperti BEM mendaftar sebagai pemantau pemilu di Bawaslu Riau. Bawaslu akan memberikan id card resmi, dan mahasiswa bisa ikut serta langsung memantau perjalanan pemilu 2019.(anjas)

Leave a Reply