KTB Yogyakarta Diingatkan Rutin Gelar Simulasi Bencana

    Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Puluhan Kampung Tangguh Bencana yang sudah terbentuk di Kota Yogyakarta diingatkan untuk rutin menggelar simulasi penanganan kebencanaan, meskipun dilakukan dalam skala kecil.
“Penanganan kebencanaan tergantung dari kebiasaan warga di wilayah. Jika simulasi rutin digelar, maka warga akan terbiasa dengan kondisi darurat dan tahu bagaimana harus melakukan penanganan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Hari Wahyudi di Yogyakarta, Selasa.
Hingga akhir 2018, Kota Yogyakarta menargetkan membentuk 100 Kampung Tangguh Bencana (KTB) dari total 250 kampung di Kota Yogyakarta. Sebanyak 10 di antaranya dibentuk pada 2018.
Setiap pembentukan KTB baru, lanjut Hari, akan dilakukan dengan pembinaan untuk masyarakat di kampung tersebut guna memberikan bekal terkait dengan penanganan kebencanaan.
“Ada 16 kali pertemuan yang digelar dan diakhiri dengan simulasi kebencanaan. Terakhir, kami melakukan simulasi di Kampung Macanan, Kecamatan Danurejan,” katanya.
Selain di Kampung Macanan, sejumlah KTB yang dibentuk pada 2018, di antaranya di Kampung Sagan, Malangan, Purwodiningratan, Jatimulyo, Sosrokusuman, Dukuh, dan Pilahan.

Ia menyatakan KTB tidak bisa mengandalkan kegiatan simulasi yang digelar oleh BPBD Kota Yogyakarta saja, tetapi juga perlu rutin menggelar simulasi.
“Tidak perlu simulasi besar-besaran, tetapi cukup simulasi kecil saja dengan tema yang berbeda-beda. Harapannya, masyarakat memiliki pelopor penanganan kebencanaan di wilayah masing-masing,” katanya.
Pelopor tersebut nantinya bertugas untuk memberikan arahan kepada warga saat terjadi bencana.
“Fungsi KTB ini bisa diibaratkan sebagai penanganan pertama pada kegawatdaruratan dengan melakukan `assessment¿ awal. Jika mereka bisa melakukan penanganan awal dengan tepat, maka penanganan selanjutnya dapat dilakukan lebih baik,” katanya.
Selain pembinaan untuk penanganan dan penanggulangan kebencanaan, setiap KTB juga memperoleh bantuan peralatan pendukung, seperti sepeda motor roda tiga, genset, pompa air, dan tali untuk kebutuhan “vertical rescue”.
Sebelumnya, dalam simulasi kebencanaan di Kampung Macanan, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan warga perlu memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dan melakukan penanganan saat terjadi bencana karena bencana selalu datang mendadak.  (anjas)

Leave a Reply