Kusuma Kelakan Terpilih Ketua PA GMNI Bali

     Denpasar, jurnalsumatra.com – Kegiatan Konferensi Daerah (Konferda) Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Provinsi Bali menetapkan IGN Alit Kusuma Kelakan menjadi ketuanya untuk periode 2018-2023.
Kegiatan Konferda Persatuan Alumni (PA) GMNI diselenggarakan di Denpasar, Bali, Jumat, dihadiri dari utusan provinsi, kabupaten dan kota se-Bali.
IGN Kusuma Kelakan mengatakan DPD PA GMNI Bali sebagai organisasi yang anti penindasan atau  kesewenang-wenangan. Setelah ini, pihaknya akan segera melakukan rapat kerja untuk bisa memperkuat organisasi.
“Kami akan melakukan rapat koordinasi (rakor) pada rapat kerja. Dimana nanti yang belum ada DPC kami akan bentuk. karena tugas berat kami begitu, termasuk mendampingi anak-anak GMNI. Program paling penting memperkuat organisasi. Kedua menterjemahkan ideologi ini di tingkat prilaku dan implementasi,” katanya.
Alit  Kelakan menjelaskan bahwa GMNI adalah organisasi yang berideologi Marhaenisme. Begitu juga dalam Mahaenisme ada Sosionasionalisme, Sosio demokrasi dan Ketuhanan.
Mantan Wagub Bali ini menjabarkan bahwa mengimplementasikan Sosio-Nasionalisme secara sederhana dengan diwujudkan spirit kebangsaan ini tanpa bicara feodalisme, perbedaan suku, dan perbedaan agama.

     Sedangkan untuk  Sosio-demokrasi, yakni demokrasi yang berpihak kepada rakyat. Ada demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
“Bagaimana kaum Marhaen ini diperkuat aksesnya pada perekonomian. Jangan sampai kaum Marhaen ini selalu tertindas,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Konferda PA GMNI Bali, Made Iwan Dewantama mengatakan bahwa negara ini didirikan dengan perjuangan dan darah, dalam dinamika ideologi dan intelektualitas tinggi hingga melahirkan UUD 1945 dan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
Dewantama lebih lanjutnya mengatakan sebagai bangsa yang besar Bung Karno juga merumuskan visi yang sangat besar yang dikenal dengan Tri Sakti yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Sehingga ajaran Tri Sakti ini harus mampu diimplementasikan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
“Visi selanjutnya dirumuskan ke dalam misi, yang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia hampir sulit ditemukan misi pembangunan yang berorientasi pada pencapaian visi Tri Sakti. Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) di era orde baru hanya menjadi pemanis dalam tata kelola kenegaraan hingga kemudian orde reformasi harus digulirkan,” katanya.(anjas)

Leave a Reply