Lamin Adat Perbatasan Sering Dikunjungi Wisman

     Long Apari, jurnalsumatra.com – Lamin Adat Seputan (Marang Seputan) di Kampung Long Penaneh I, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur, kawasan perbatasan dengan Malaysia, sering dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman).
“Wisman yang sering datang ke lamin kami kebanyakan dari Benua Eropa seperti dari Jerman, Perancis, dan Belanda. Ada pula turis dari Inggris, Swedia, Australia, bahkan dari Yunani juga ada,” ujar guide setempat, Izhar Arifin saat ditemui di Lamin Marang Seputan, Kamis.
Lamin berukuran 23×25 meter yang tinggi kolongnya mencapai 3 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter mulai lantai di atas kolong hingga atap bagian tengah ini dibangun dalam dua tahun anggaran, yakni pendanaan gabungan antara dana desa (DD) dari APBN dan Alokasi Dana Kampung (ADK) dari APBD Mahakam Ulu.
Pembiayaan pertama tahun 2015 dialokasikan dari ADK senilai Rp200 juta lebih. Dana sebesar itu hanya untuk pengadaan material. Kemudian tahun 2016 dianggarkan dari DD senilai Rp490 juta untuk pembangunannya dan melengkapi sejumlah bahan yang masih kurang, sehingga total anggaran yang terserap mencapai Rp690 juta.
Ezi, panggilan akrabnya, yang juga Bendahara Pemerintah Kampung Long Penaneh I, Kecamatan Long Apari, ini melanjutkan, biaya sebesar itu tergolong murah karena dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat, jika tidak, maka total nilainya bisa dipastikan di atas Rp1 miliar karena sebagian besar material yang digunakan adalah kayu ulin.

   Bahkan, lanjut dia, delapan tiang utuh pohon ulin yang ditarik dari hutan setempat secara bergotong royong, memiliki diameter 130 meter untuk tiang yang paling besar dan berdiameter 90 untuk tiang utama yang paling kecil.
Sementara panjang masing-masing tiang utama sekitar 12 meter. Dari panjang total 12 meter itu, panjang yang ditancapkan ke tanah mencapai 2 meter sehingga tinggi tiang mulai batas tanah hingga ke atas mencapai 10 meter.
Sementara Sekretaris Kampung Long Penaneh I, Daniel Jivan mengaku terjadi perubahan signifikan di kampungnya sejak dikucurkannya DD dan ADK, diantaranya dulu yang jalanan berdebu saat musim kemarau dan becek saat musim hujan, kini tidak lagi karena telah dilakukan semenisasi jalan dan gang.
Selain itu, pihaknya juga membangun sejumlah infrastruktur lain diantaranya Posyandu Balita dan Posyandu Lansia, sehingga melalui kader Posyandu yang juga mendapat insentif dari DD dan ADK, maka tingkat kesehatan balita dan lansia menjadi terkontrol.
“Sekarang kami sudah meminta berbagai infrastruktur pendukung, jalan sudah bagus, fasilitasi kesehatan dan pendidikan tingkat kampung sudah cukup, maka DD dan ADK untuk tahun-tahun mendatang kami arahkan pada pengembangan ekonomi. Apalagi BUMDes kami sudah terbentuk sehingga melalui lembaga ini dan melalui kelompok tani diyakini mampu mendongkrak ekonomi,” ujarnya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight − 3 =