Legislator Harapkan Gubernur Mendatang Selesaikan Pelabuhan Pesiar

    Denpasar, jurnalsumatra.com – Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Putu Widjera mengharapkan gubernur mendatang mampu menyelesaikan proyek pembangunan Pelabuhan Kapal Pesiar di Tanah Ampo, Kabupaten Karangasem yang kini mangkrak.
“Saya berharap pembangunan yang selama ini belum terselesaikan atau mangkrak, seperti Pelabuhan Kapal Pesiar Tanah Ampo, gubernur mendatang bisa menyelesaikan,” kata Gusti Widjera dikonfirmasi dari Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan masyarakat berharap pelabuhan kapal “cruise” di Tanah Ampo tersebut bisa tuntas, namun hingga kini belum menunjukkan hasilnya.
“Selama dua periode kepemimpinan gubernur Mangku Pastika belum juga bisa menuntaskan masalah pelabuhan Tanah Ampo tersebut. Sehingga kesannya mangkrak sampai sekarang,” ujar politikus asal Desa Menanga, Kabupaten Karangasem itu.
Gusti Widjera mengatakan bersama anggota legislatif dan eksekutif sudah pernah mengusulkan kembali perpanjangan dermaga pelabuhan tersebut agar menjadi 300 meter ke pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan.
“Tapi sampai saat ini belum ada kejelasan. Apakah dermaga Pelabuhan Tanah Ampo tersebut mau dilanjutkan atau tidak. Karena keberadaan pelabuhan itu panjang dermaganya sekitar 150 meter, sehingga tidak bisa kapal pesiar ukuran besar bersadar di pelabuhan itu,” ucapnya.

     Akibat dari tak bisa bersandarnya kapal pesiar ukuran besar tersebut, kata dia, kapal yang awalnya menjadwalkan berlabuh di Tanah Ampo membatalkan kunjungan ke objek wisata yang ada di wilayah Bali bagian timur.
“Jika tidak dilanjutkan oleh pemerintah pusat masalah perpanjangan dermaga itu, maka pelabuhan yang menjadi harapan masyarakat Karangasem dan Bali pada umumnya akan rusak ditelan waktu. Padahal dari APBD sudah miliaran rupiah berinvestasi di kawasan itu,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Bali I Ketut Suwandhi secara terang-terangan menyebut Dermaga Tanah Ampo sebagai proyek gagal.
Karena lokasi pelabuhan dinilai tidak cocok karena berada di perairan dengan arus keras, ombak besar, dan panjang dermaga yang pendek. Bali akan kesulitan untuk menarik wisatawan yang dibawa kapal pesiar. Apalagi, mereka harus menaiki sekoci dari tengah laut.
“Dengan kondisi seperti itu, sebagian besar operator kapal pesiar lebih memilih Pelabuhan Benoa sebagai tempat bersandar,” katanya.(anjas)

Leave a Reply