Legislator Minta Pemkab Kotim Antisipasi Penyebaran HIV/AIDS

    Sampit, jurnalsumatra.com – Ketua Komisi III DRPD Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rimbun meminta pemerintah daerah itu untuk terus melakukan antisipasi penyebaran penyakit menular HIV/AIDS.
“Dengan terus dilakukan antisipasi diharapkan dapat menekan angka penderita yang terjangkit virus mematikan HIV/AIDS,” katanya di Sampit, Jumat.
Penyebaran virus HIV/AIDS di Kotawarigin Timur sudah di ambang bahaya karena penderitanya tidak hanya orang dewasa, namun balita dan ibu rumah tangga.
Menurut Rimbun, penyebaran virus HIV/AIDS di Kotawaringin Timur butuh penangan serius agar penderita dan korban meninggal tidak terus bertanbah.
Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kotawaringin Timur serta sekolah dan pihak terkait lainnya juga harus mengintensifkan sosialisasi tentang bahaya penyakit menular ini.
“Supaya sosialisasi dan penyuluhan bahaya HIV/AIDS berjalan lebih efektif hendaknya Dinkes, Disdik, KPA menggandeng para praktisi pendidikan, tokoh budaya, tokoh agama, tokoh pemuda serta tokoh masyarakat dan pihak terkait lainnya,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan data Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kotawaringin Timur, sepanjang 2016 menemukan 54 kasus warga yang terinfeksi virus HIV/AIDS, dan 85 persen atau 52 penderita di antaranya adalah usia produktif.

     Sekretaris KPA Kotawaringin Timur, Asyikin Arpan mengatakan, dari 54 penderita HIV/AIDS tersebut sembilan di antaranya merupakan ibu rumah tangga. Dan terjangkitnya ibu rumah tangga ini sebagian besar berasal dari suami mereka.
“Kita sangat prihatin dengan kondisi itu. Penyebaran HIV/AIDS di Kotawaringin Timur juga banyak disebabkan oleh perilaku seks bebas, dan seks menyimpang, yaitu dengan maraknya prostitusi,” terangnya.
Asyikin mengaku sangat setuju dan mendukung dengan rencana pemerintah yang akan menutup lokalisasi dan menertibkan tempat hiburan malam (THM) yang ada di daerah itu.
Dengan ditutupnya lokalisasi dan penertiban THM diharapkan mampu mengurangi dan mencegah penularan infeksi HIV/AIDS. Namun, dampak dari penutupan itu bisa menyebabkan maraknya prostitusi terselubung yang lebih sulit dipantau.
“Saya berharap, dampak dari penutupan lokalisasi ini harus diantisipasi, sebab jika tidak tentunya akan semakin marak prostitusi terselubung dan cara lainnya,” katanya.

     Lebih lanjut Asyikin mengatakan, guna mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan remaja, pihaknya juga melakukan sosialisasi terhadap kalangan remaja, yaitu yang berada di kisaran usia 15-24 tahun.
“Program pencegahan penyebaran HIV/AIDS perlu dukungan semua pihak, agar program yang direncanakan berjalan sesuai dengan yang diharapkan atau tepa sasaran,” ucapnya.
Ditambahkannya, Kabupaten Kotawaringin Timur rawan terjadi penyebaran HIV/AIDS karena sejumlah faktor, yakni kondisi geografisnya yang mudah dijangkau, kemudian mobilitas penduduk yang tinggi karena hampir semua angkutan ada di daerah ini baik itu angkutan darat, udara dan kapal laut.
Kemudian infrastruktur yang semakin terbuka dengan banyaknya daerah yang dapat ditembus dengan jalan darat, dan terakhir tingkat perekonomian yang semakin baik, dengan banyaknya investasi yang masuk, seperti perkebunan kelapa sawit, sehingga banyak warga pendatang yang mencari pekerjaan di Kotawaringin Timur.
“Kita tidak tahu mereka yang datang ke Kotawaringin Timur sehat atau tidak, bahan mereka mengidap penyakit apa kita juga tidak tahu. Kemungkinan besar dari situlah awal dari penyebaran virus HIV/AIDS,” jelasnya.(anjas)

Leave a Reply