Lima Pemuka Agama Surabaya Ikut Bagi-Bagi Takjil

     Surabaya, jurnalsumatra.com – Lima pemuka agama   membagi-bagi takjil kepada para pengendara motor di Jalan Raya Mastrip, Kedurus, Karang Pilang, Kota Surabaya selama Ramadhan sebagai bentuk menjaga kerukunan antarumat beragama.
Anggota Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Kota Surabaya Siti Maryam, di Surabaya, Selasa, mengatakan lima pemuka agama, masing-masing agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan pemuka kepercayaan berkumpul serta bersilaturahmi bersama masyarakat.
“Tujuan diadakannya kegiatan ini, selain memperingati Bulan Bung Karno juga untuk bersilaturahmi, dan menjalin kerukunan antarumat beragama,” katanya.
Siti Maryam mengatakan kegiatan bagi-bagi takjil kepada masyarakat yang dilakukan selama bulan Ramadhan ini sudah bertahun tahun diselenggarakan. Sedangkan, pertemuan dengan umat lintas agama dilakukan sebulan sekali.
“Kebersamaan ini perlu kita ciptakan. Mudah-mudahan peristiwa ledakan bom yag dilakukan oleh para oknum beberapa waktu lalu tidak terulang lagi,” kata Politisi PDI Perjuangan ini.
Menurut dia, bagi¿bagi takjil yang dilakukan para tokoh lintas agama dan masyarakat di sekitar pertigaan Jalan Raya Mastrip pada Senin (4/6) berlangsung semarak. Sekitar seribu takjil makanan dibagikan kepada pengendara yang melintas. Kemacetan sempat terjadi, akibat kerumunan para pengendara yang memberhentikan kendaraannya untuk berebut takjil.
Namun situasi itu tak berlangsung lama, karena untuk kelancaran lalu lintas, aparat kepolisian juga siaga di sekitar tempat kegiatan bagi-bagi takjil tersebut. Berbarengan dengan acara bagi-bagi takjil, alunan lagu “Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur” yang dinyanyikan penyanyi kondang, Via Valen dan Nela Kharisma.

Gema lagu yang identik dengan tagline pasangan Cagub dan Cawagub Jatim, Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno dalam kegiatan sosial tersebut sekaligus wujud sosialisasi ke masyarakat, karena PDIP termasuk salah satu pengusung cagub-cawagub itu pada Pilkada Jatim 2018.
Maryam mengharapkan, pada Bulan Bung Karno, segenap elemen masyarakat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, isi dasar degara  Pancasila hendaknya tidak hanya dipahami, namun juga diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Makanya, kami prihatin dengan tragedi  bom yang menimpa tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya beberapa waktu lalu,” katanya.
Ia mengatakan Islam adalah agama rahmatan lil alamin, mencintai kedamaian dan kebersamaan. Untuk itu, menjaga kebersamaan dan hidup berdampingan antarpemeluk agama yang berbeda sesungguhnya indah.
Pendapat senada disampaikan, Romo Akik. Pemuka agama  Katolik ini menyampaikan, dalam momen hari lahirnya Pancasila pada Bulan Juni, seyogyanya masyarakat tak melupakan founding father bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta, dan seluruh para pahlawan  karena bangsa dan Negara ini dibangun dari cucuran keringat dan darah.
“Untuk itu, mari kita bangun Negara dengan karya. Kita tunjukkan bakti ke masyarakat, di antaranya dengan peduli saat puasa,” katanya.
Sementara, salah seorang pengurus Pura di babatan Wiyung, Nyoman Wisada mengaku salut dengan kebersamaan dan kebhinekaan masyarakat di kawasan Wiyung, Karang Pilang dan Lakarsantri. Bahkan, menurutnya, dalam suatu kawasan perumahan di Kecamatan Lakarsantri terdapat enam tempat peribadatan, yakni masjid, Wihara, Gereja Katolik, Protestan dan Pura.
“Sekarang sebagian proses pembangunan. Lahannya wakaf dari pihak pengembang, sedangkan pembangunannya swadaya masyarakat,” katanya.
Nyoman menilai keberadaan enam tempat ibadah dalam suatu kawasan satu-satunya di Surabaya, bahkan Indonesia. Hal ini dikarenakan di wilayah Bali dan Sumatera Utara, hanya ada lima tempat peribadatan yang letaknya berdekatan.
“Ke depan kawasan ini akan diproyeksikan sebagai wisata religi,” katanya. (anjas)

Leave a Reply