Lulusan UAD Yogyakarta Naik 83 Persen

YOGYAKARTA, jurnalsumatra.com – Menjadi tantangan bagi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang saat ini menjadi Pendidikan Tinggi yang unggul dengan akreditasi A.

Dan, ini bagian dari upaya Muhammadiyah yang punya 173 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) untuk membangun peradaban yang bernuansakan Islam.

Hal itu disampaikan Prof Dr Widodo Muktiyo, SE, M.Com, mewakili Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Dikti Litbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pada acara wisuda sarjana dan pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta pada Sabtu, 24 November 2018 di gedung Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul.

Pada kesempatan itu, Widodo Muktiyo berharap kepada para wisudawan, dalam era saat ini untuk menjalin kerjasama yang sebaik-baiknya. “Di era sekarang ini tidak bisa dikotomis,” tandas Widodo Muktiyo, yang menjelaskan wiraswasta juga harus mensupport institusi.

“Selain itu, jangan melupakan di mana Anda dididik dan dibesarkan,” papar Widodo Muktiyo, yang berharap kepada wisudawan untuk selalu melakukan kreativitas dan inovasi.

Sebanyak 1.868 mahasiswa, terdiri dari 1.756 orang wisudawan S1 dengan IPK rata-rata 3,4 dan 112 orang wisudawan S2 dengan IPK rata-rata 3,64, diwisuda Rektor UAD, Dr H Kasiyarno, M.Hum.

Dikatakan Rektor UAD Yogyakarta, hingga saat ini lulusan Pascasarjana ada 1.431 orang dan alumninya ada 45.610 orang.

Dalam pidatonya, Rektor UAD Kasiyarno mengapresiasi dekan dan ketua prodi S1 dan S2 yang telah bekerja keras mendorong dosen untuk belajar lebih keras dan membimbing mahasiswa. “Sehingga lulusan kali ini lebih besar dan naiknya 83 persen,” tandas Kasiyarno, yang menambahkan wisuda kali ini ada 2 orang mahasiswa dari Tiongkok yang ikut program internasional, yang lulus Magister Manajemen Pendidikan.

Selain itu, ada 8 orang wisudawan PBI yang lulus penulisan skripsi sangat singkat, yaitu selama 2 bulan.

Rektor UAD, Kasiyarno, berpesan agar wisudawan dan wisudawati lebih siap dalam menghadapi era sekarang ini.

“Semoga ilmu yang diperoleh diamalkan, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan,” kata Kasiyarno, yang menambahkan ilmu itu sebagai senjata dalam kehidupan.

Kasiyarno pun berharap, ilmu yang diperoleh dimamfaatkan dalam kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat, keluarga dan umat. “Dengan ilmu akan memenangkan kompetisi di era sekarang ini,” tandas Kasiyarno.

Bagi Kasiyarno, saat ini teknologi sudah merajai dalam kehidupan sehari-hari. “Untuk itu, kreativitas dan inovasi sangat diperlukan,” kata Kasiyarno yang berpesan untuk menggunakan ilmu dengan berpikir kritis dan semoga bisa membawa barokah.

Dikatakan Kasiyarno, teknologi sangat berperan dan teknologi digital dapat menggusur tenaga kerja yang ada.

“Bagi para wisudawan hendaklah Anda sadar dengan kondisi seperti ini, dan yang dibutuhkan adalah kreatifitas. Tingkatkan kratifitas Anda untuk menciptakan ekonomi-ekonomi kreatif,” pesan Kasiyarno.

Pada pelepasan wisuda periode kali ini, UAD Yogyakarta memberikan apresiasi kepada mahasiswa berprestasi tingkat sarjana maupun pascarsarjana.

Adapun predikat wisudawan S1 dengan kelulusan tercepat 3 tahun 10 bulan 20 hari diraih Siska Anggraeny dari Prodi S1 Kesehatan Masyarakat (IPK 3,7). Dan, wisudawan termuda 27 tahun 20 hari adalah Nursuciyati (Prodi S1 Kesehatan Masyarakat IPK 3,23).

Wisudawan terbaik pertama adalah Luthva Luviandani Pratiwi (IPK 3,97) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, disusul Lina Anggraeni (IPK 3,96) dari Prodi Pendidikan Matematika dan Mahayu Agustia Jayanti (IPK 3,95) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Sementara itu, wisudawan terbaik Program Pascasarjana diraih oleh Rindu Dwi Sartika (Magister Farmasi) dengan IPK 4,0 yang lulus dalam waktu 2 tahun 5 bulan 29 hari.

Di kesempatan terpisah, HM Muchlas Abror dari Badan Pembina Harian (BPH) UAD Yogyakarta, mengatakan, satu tahapan perjuangan menuntut ilmu sudah dapat diselesaikan dengan baik.

“Semoga ilmu yang diperoleh para wisudawan selama perkuliahan itu bisa memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat,” kata Muchlas Abror yang berharap keberhasilan itu harus disyukuri.

Selain itu, Muchlas Abror juga berharap agar kuantitas dan kualitas membaca harus ditingkatkan lagi. “Karena, membaca itu adalah kunci ilmu,” tandas Muchlas Abror.

Bagi Muchlas Abror, meningkatkan kemampuan menulis dan meneliti akan bisa berbagi ilmu kepada sesama. (Affan)

Leave a Reply