Mahasiswa UAD Ikuti FFMI


Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Dalam rangka pengembangan kreativitas, minat dan bakat mahasiswa dalam bidang seni , khususnya film. Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengadakan Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI).

Festival film tahun 2019 ini secara khusus didedikasikan bagi kesatuan dan persatuan bangsa yang diaktualisasikan dalam “Pesta Apresiasi Karya Sineas Muda Indonesia”.

Melalui festival ini, diharapkan dapat memberi ruang ekspresi bagi pembentukan pola pikir, sikap, dan perilaku yang positif dan lebih mencintai bangsanya.

Berkaitan hal itu, mahasiswa UAD Yogyakarta yang tergabung dalam komunitas film dan berminat dalam bidang seni atau film dengan pembimbing R. Muhammad Ali, SS, M.Pd dan Vani Dias Adiprabowo S.Sn, M.Sn (Dosen Ilmu Komunikasi) berpartisipasi dalam kegiatan FFMI 2019 yang digelar di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Lampung Kampus Rektorat Jl. Zaenal Abidin Pagar Alam No. 93 Gedong Meneng Raja Basa Bandar Lampung.

Menurut Vani Dias Adiprabowo, membuat film bukan semata-mata gengsi. “Tetapi merupakan sebuah pengalaman untuk belajar tentang kehidupan karena setiap langkah dalam membuat film merupakan pembelajaran dan penerapan nilai-nilai kemanusiaan,” kata Vani Dias Adiprabowo.

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada 24 Juni 2019 sampai dengan 20 Juli 2019 gelar Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) tahun 2019 dengan tema pesta apresiasi karya sineas muda Indonesia.

Seleksi tahap pertama pada 17-22 Juni 2019 dan diumumkan pada 23 Juni 2019. Seleksi tahap kedua penjurian teknis pada 30 Juni 2019 dan pengumuman seleksi tahap kedua pada 5 Juli 2019.

Presentasi film untuk seleksi tahap ketiga pada 19 Juli 2019 dan malam anugerah FFMI 2019 pada 20 Juli 2019.

Berkaitan hal itu, ada 2 film yang masuk — dari 20 film dari Perguruan Tinggi seluruh Indonesia  yaitu “Aswini” dan “Gegayuhan”. Selain itu, ada film berjudul “Karso”.

Film “Aswini” yang shootingnya di daerah Caturharjo, Pandak, Bantul, dengan para pemain:  Hanifah, Andri Nur Hidayatullah dan Renangga Yudianto, disutradarai Nabila Afsya Nur Fadhilla sekaligus penulis naskahnya.

Film dengan kameraman dan editor M Fahrurrazi IB ini, ceritakan pasutri muda Aswini dan Kasto yang telah menikah, tapi kehidupannya tidak berjalan dengan baik. Sang suami lulusan SMP sulit cari kerja dan isterinya hanya mengurusi rumah.

Aswini seorang isteri yang mandiri. Ia lakukan segala sesuatu sendiri agar tidak tergantung dengan suaminya.

Kemudian Aswini cari kerja, tapi suaminya tidak setuju karena beranggapan perempuan tempatnya di rumah.

Ketidaksiapan psikis dan mental keduanya yang belum stabil, jadi penyebab pecahnya konflik.

Bagi Danang Sukantar, MPd, karya dari mahasiswa Prodi Teknik Elektro UAD Yogyakarta yang dibuat lebih mengeksplore budaya lokal dan khas ke-Indonesiaan itu, modal awal untuk persiapan lebih baik lagi di masa mendatang. “Dan bisa berimbas baik dari kegiatan kali pertama ini,” tandas Danang Sukantar, Kepala Bidang Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni.

Danang berharap, momen ini menjadi titik awal tumbuh dan berkembangnya tim-tim kreatif mahasiswa UAD Yogyakarta untuk membuat karya-karya futuristik yang konstruktif. “Yaitu, karya yang berorientasi pada problem-problem bangsa Indonesia dan solusi-solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan masalah tersebut, yang dikemas dalam karya film,” kata Danang.

“Mahasiswa diharapkan dapat menciptakan karya yang bagus serta bermutu dalam bentuk film dan kita sangat support,” kata Dr Dedi Pramono, MHum, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UAD Yogyakarta, Sabtu (13/7/2019), di Kampus 1 UAD Jl Kapas, Yogyakarta.

Dikatakan Dedi, kegiatan positif semacam ini perlu terus mendapatkan dukungan. “Film merupakan representasi kehidupan, baik film panjang maupun film pendek,” kata Dedi.

Vani Dias Adiprabowo menambahkan, untuk kalangan mahasiswa, membuat film pendek sudah merupakan hal yang sangat patut diapresiasi. “Karena membuat film tidaklah mudah dan banyak teknik yang harus dikuasai,” papar Vani Dias Adiprabowo.

Dikatakan Vani, setiap film memiliki karakteristiknya masing-masing. “Begitu pun dengan kekurangan dan kelebihannya,” ucap Vani.

Ia menambahkan, pesan yang terkandung di dalam film cukup berbobot meskipun hanya dengan waktu yang singkat. “Ide dari film yang ikut lomba sudah menarik, hanya teknik yang perlu dibenahi dalam pembuatan film,” kata Vani. (Affan)