Masyarakat Resah Dan Bingung Untuk Membuka Lahan Pertanian Mereka

Muba , JurnalSumatra.com- Sejak Pemerintah menerapkan Undang-Undang tentang larangan membakar hutan dan lahan, masyarakat petani khususya di Kabupaten Musi banyuasin (Muba) resah dan bingung untuk membuka lahan pertanian mereka.

Ditambah lagi petugas kementrian terus melakukan patroli hingga ke pelosok desa, membuat masyarakat semakin takut untuk berladang. Sehingga banyak lahan pertanian masyarakat yang sudah dilakukan tebas-tebang atau siap bakar kembali menjadi semak belukar. Maka timbul sekarang ini, banyak warga yang memilki hutan/lahan pertanian namun membeli sayur-mayur dari kota.

“Inilah yang jadi masalah dan kesedihan rakyat kecil, apalagi mata pencharian mau bertani tidak boleh membakar lahan, nyadap karet harganya murah, kerja diperusahaan ada batas usia, segalanya sempit, makan apa rakyat petani nantinya, apa disuruh makan batu koral,”Demikian dikatakan Bakri (75) warga desa Kramat Jaya, Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin (Muba) kepada wartawan Jurnal Sumatra.com dikediamannya Kamis (22/11/2018)

Laki-laki yang mengaku dua  priode menjabat kadus diera tahun 80an ini, menceritakan kalau sebelumnya desa Kramat Jaya terkenal kaya dengan hasil pertanian mulai Jagung, Ubi, Cabe, sayur-mayur terutama padi bahkan saking banyaknya hasil padi, didesa tersebut terdapat 9 pabrik atau mesin penggiling padi.

“Sebenarnya yang mau membuka ladang untuk menanam padi itu masih banyak, dikarenakan ada larangan membakar lahan pertanian warga jadi takut, boleh dikatakan sudah tidak ada lagi disisni warga yang berladang, paling satu-dua orang, bahkan lahan pertanian sekarang ini sudah banyak dijual warga ke perusahaan. Nah ini menyedihkan tinggal di pelosok desa, sementara cabe dan sayu-mayur beli dengan pedagang keliling (kenyot)”. Ujarnya.

Menurut Bakri meski pemerintah menurunkan bantuan berupa alat berat untuk para petani, namun pertanian tetap tidak akan jalan. Karena lahan pertanian warga itu tidak semuanya berada dipinggir jalan poros.

“Untuk warga yang memiliki lahan dipinggir jalan poros bisa menggunakan alat berat, tapi bagi warga yang memiliki lahan dibelakang melewati 3-4 hektar kebun karet, alangkah banyak mengeluarkan biaya ganti rugi untuk memasukan alat berat.

Oke bisa menggunakan alat berat, khawalitas tanahnya bagaimana, jika lahan pertanian itu tidak dibakar, tanaman apapun tidak akan subur, hidup kalau tanamannya tapi daun nya kuning kecuali pohon karet dan kelapa sawit.”Jelas dia.

Terpisah, Sekretaris Sarina Srikandi Serasan Sekate (S4) Musi Banyuasin Ratih Rafika Sari SE, berharap agar permasalahan ini diperhatikan serius oleh pemerintah. Karena menurut  kader Partai Amanat Nasional (PAN) No urut 8 untuk daerah pemilihan (1) ini, jika tidak segera dicarikan solusinya permasalahan tersebut dapat berakibat patal bagi para petani.

“Kita berharap permasalahan ini ditanggapi serius oleh pemerintah, bagaimana solusinya jangan sampai tradisi menanam/menuai padi diladang punah dan terkikis oleh undang-undang.”Harap dia. (Rafik Elyas)

Leave a Reply