Menlu Sampaikan Pandangan Indonesia Di DK PBB

    Jakarta,jurnalsumatra.com – Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyampaikan pandangan Indonesia dalam Debat Terbuka Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) bertema “Collective Action to Improve UN Peacekeeping Operations”.
Debat terbuka tersebut dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat pada Rabu (28/3), seperti disampaikan dalam keterangan pers Kementerian Luar Negeri yang diterima di Jakarta, Kamis.
Menlu RI diberi kesempatan sebagai pembicara pertama setelah 15 negara anggota DK PBB berbicara.
Ada beberapa hal utama yang disampaikan Menlu RI dalam pidatonya mewakili pemerintah Indonesia di Debat Terbuka DK PBB, salah satunya mengenai pentingnya membuat terobosan baru dalam memastikan keamanan dan keselamatan para personil pasukan penjaga perdamaian dan keamanan PBB di lapangan.
Selain itu, Menlu RI menekankan bahwa pasukan penjaga perdamaian dan keamanan PBB tidak bisa lagi hanya bekerja seperti biasa (business as usual) dalam menghadapi tantangan di lapangan sekarang ini.
“Pasukan Keamanan PBB tidak bisa lagi bekerja ‘business as usual’, ‘peacekeepers’ harus terlatih dengan baik, diperlengkapi dengan baik dan didukung sumber daya yang memadai,” ujar Menlu Retno.
Untuk itu, menurut Menlu RI, pasukan operasi perdamaian dan keamanan PBB harus mendapatkan pengembangan kapasitas yand disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Selanjutnya, Menlu RI meminta DK PBB untuk terus mendorong inovasi dalam pembelian peralatan untuk misi pemeliharaan perdamaian dan keamanan, termasuk pengunaan industri strategis dari negara berkembang.
Menlu Retno juga menegaskan pentingnya peningkatan kemitraan dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk dengan organisasi regional.
Menlu RI menambahkan, jumlah personil perempuan dalam berbagai misi pemeliharaan perdamaian dan keamanan PBB juga harus ditingkatkan.
Dalam debat terbuka DK PBB itu, Menlu Retno juga menegaskan bahwa keamanan dan keselamatan pasukan perdamaian menjadi tanggung jawab bersama negara anggota PBB sehingga harus selalu menjadi perhatian semua anggota PBB.
Debat terbuka itu diselenggarakan di bawah presidensi Belanda di Dewan Keamanan PBB. Pertemuan dipimpin oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres selaku pemapar. Sebanyak 13 pejabat setingkat menteri serta 69 negara anggota PBB ikut serta dalam debat terbuka itu.
Tema debat terbuka yang diusung Belanda dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya jumlah personil pasukan keamanan PBB yang menjadi korban dalam berbagai serangan dan ancaman kemananan terhadap misi PBB. Tercatat 57 korban selama 2017 dan merupakan jumlah terbesar selama dua dekade.
Selain itu, debat terbuka tersebut juga mencoba untuk membahas proses politik bagi penyelesaian konflik di berbagai Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. (anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + seventeen =