Menristek Resmikan Alat Fraksinasi Minyak Nilam

Banda Aceh, jurnalsumatra.com – Menristek Bambang P.S. Brodjonegoro meresmikan alat fraksinasi minyak nilam dan pabrik distilasi molekuler untuk meningkatkan kualitas hasil penyulingan minyak nilam sehingga Indonesia dapat menjual minyak nilam bukan sekadar minyak mentah namun minyak bernilai tambah tinggi.

  “Kilang dari minyak nilam yang tadi sudah disampaikan menciptakan nilai tambah yang cukup tinggi dari yang minyak mentah (crude oil) menjadi refined oil atau minyak yang sudah diproses,” kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro dalam sambutan peresmian alat fraksinasi minyak nilam di Kantor Atsiri Research Center, Banda Aceh, Provinsi Aceh, Jumat.

  Sebanyak 90 persen minyak nilam dunia diekspor dari Indonesia dalam bentuk bahan mentah sehingga harganya masih Rp150.000 per botol, sedangkan minyak nilam mentah itu ketika dipakai di Prancis dapat menjadi seharga Rp1.500.000.

  Untuk itu, fraksinasi minyak nilam menjadi penting guna meningkatkan nilai jual minyak nilam Indonesia ke luar negeri sehingga mendatangkan keuntungan lebih besar bagi negara dan manfaat bagi masyarakat, terutama petani nilam, karena Indonesia bisa menetapkan harga jual nilam.

  Ia mengapresiasi Univeristas Syiah (Unsyiah) Kuala yang berupaya untuk mempromosikan dan mengupayakan nilai tambah yang setinggi-tingginya untuk minyak nilam dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang berusaha dengan kemampuan teknologinya, membuat mesin atau alat yang bermanfaat bagi peningkatan nilai tambah nilam itu.

  “Upaya Unsyiah untuk mengembangkan minyak nilam tentunya ini tidak hanya untuk sekadar civitas akademika Unsyiah, yang lebih penting ini adalah untuk masyarakat Aceh, khususnya petani tanaman nilam,” tuturnya.

  Dengan menggunakan minyak nilam, parfum menjadi berkualitas tinggi karena memiliki wangi yang tahan lama. Hal itu membuat tanaman nilam menjadi komoditas yang berharga dan unggulan di Indonesia.

  Ia mengharapkan masyarakat Aceh, terutama para petani yang selama ini menanam dan mengembangkan tanaman nilam, akhirnya bisa mendapatkan manfaat yang setinggi-tingginya.

  “Tolong terus upayakan agar kapasitas pengilangan ini atau kapasitas pengolahan ini terus ditingkatkan sehingga hampir semua atau kalau bisa semua produksi minyak nilam yang ada di Aceh ini bisa dinilaitambahkan,” tuturnya.

  Kepala Atsiri Research Center Univeristas Syiah (Unsyiah) Syaifullah Muhammad mengatakan alat fraksinasi itu dapat memproduksi minyak nilam 24 ton per tahun.

  Alat fraksinasi yang dihasilkan dari inovasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu merupakan alat fraksinasi minyak nilam pertama di Indonesia, sebelumnya sejumlah negara asing yang memiliki alat tersebut, seperti Singapura dan Prancis.

  Minyak nilam (patchouli salah satu oil) salah satu jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth). Minyak itu banyak diimpor oleh banyak negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Prancis dan Singapura sebagai bahan penting dalam membuat parfum dan produk kosmetik.(anjas)