Menristekdikti Minta Blora Kelola Peternakan Hulu-Hilir

     Semarang,jurnalsumatra.com – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meminta Kabupaten Blora untuk bisa mengembangkan peternakan sapi secara modern dengan pengelolaannya dari hulu hingga hilir.
“Kalau peternak sapi di Blora seperti di Desa Palon sudah menggunakan IB (inseminasi buatan-red) itu kan berarti sudah modern. Sekarang tinggal belajar lagi ke PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) di Rumpin, Bogor, supaya peternak-peternak di sini tahu cara pengelolaan peternakan sapi dari hulu sampai hilir yang baik itu seperti apa,” kata Nasir di Semarang, Jumat.
Sebelumnya, saat mengunjungi pos inseminasi buatan di Tunjungan, Kabupaten Blora, ia mengatakan pengelolaan peternakan sapi dari hulu hingga hilir artinya bergerak dari bidang pembibitan hingga penggemukan sapi. Tidak hanya itu, pengelolaan limbah kotoran sapi dengan teknologi juga dapat dilakukan untuk memberi nilai tambah.
“Peternak-peternak di sini kalau mau berhasil berarti harus mau belajar. Bisa belajar dari KAR, karena Pak Karnadi (CEO PT KAR) saja waktu mulai dulu hanya punya dua sapi sekarang sudah 2.000 ekor, dengan bobot sapi bisa mencapai 500 kg sampai 1000 kg,” ujar dia.

Dengan pemanfaatan teknologi limbah kotoran sapi dijadikan pupuk padat maupun cair di PT KAR. Perkiraannya untuk pupuk padat saja bisa menghasilkan hingga 10.000 sak dengan harga per sak mencapai Rp10.000, dan jika ini juga bisa dikembangkan oleh peternak sapi di Blora tentu dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan di sekitarnya.
Persoalan pakan, menurut dia, memang belum titik cerah, ini yang masih harus terus dikembangkan melalui riset-riset di LPNK maupun universitas.
Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Jumain Appe mengatakan Kementerian akan memfasilitasi pelatihan  peternak sapi Blora di PT KAR, Rumpin, Bogor. Yang dikejar bagaimana menghasilkan sapi-sapi dengan kualitas baik yang selama ini hanya diperoleh dari impor.
“Saya rasa tidak perlu lagi menggunakan sapi impor untuk pembibitan, karena sudah ada yang berhasil, hanya tinggal bagaimana ini bisa diikuti juga oleh peternak-peternak lainnya,” ujar dia.
Wakil Bupati Blora Arief Rohman mengatakan daerahnya memiliki populasi sapi terbesar di Jawa Tengah, mencapai 231.000 ekor. Sejauh ini keberhasilan yang dilakukan peternak di Blora yakni melakukannya secara komunal, dan cara ini mampu semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, menurut dia, harapannya Blora bisa mengembangkan peternakan sapi ini benar-benar dari hulu hingga hilir. Tidak berhenti dengan pembenihan, pembesaran atau penggemukan sapi, tetapi juga sampai memilki rumah potong hewan sendiri bahkan industri pengolahan daging sapi sendiri yang dijadikan berbagai macam produk pangan.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + 11 =