Menyoal Pembinaan Ideologi Bangsa dalam Kegiatan Kemahasiswaan

SLEMAN – jurnalsumatra.com – Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof H Lincolin Arsyad, MSc, PhD, mengakui, sejak bergabung tahun 1991 di Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah baru kali ini ada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Kemahasiswaan Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa membawa hikmah bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah,” kata Lincolin Arsyad di depan 137 orang peserta dari 103 PTMA, hari ini.

Bagi Lincolin Arsyad, kegiatan kerjasama antara UAD Yogyakarta dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah merupakan kali pertama dilakukan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah sepanjang sejarah. “Dan baru sekarang ini ada Rakornas bidang kemahasiswaan,” tandas Lincolin Arsyad.

Dijelaskan Lincolin, dalam acara itu dibahas pula Permenristekdikti Nomor 5 tahun 2018 tentang pembinaan ideologi bangsa dalam kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi.

Adanya Permenristekdikti Nomor 5 tahun 2018, seperti dikatakan Lincolin Arsyad, maka surat keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 26/Dikti/Kep/2002 tentang pelarangan organisasi ekstra kampus atau partai politik dalam kehidupan kampus, tidak berlaku lagi.

“Ini berdampak diperbolehkannya sejumlah organisasi kemasyarakatan pemuda seperti HMI, PMII, GMNI dan KAMMI masuk kampus,” terang Lincolin.

Selain itu, dalam kegiatan itu dibahas pula isu kemahasiswaan di dalam Muhammadiyah.

Saat ini, dijelaskan Lincolin Arsyad, isunya adalah proses internalisasi nilai-nilai al-Islam dan Kemuhammadiyahan. “Supaya tidak hanya jadi hafalan para mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah saja,” kata Lincolin, yang menambahkan bagaimanapun para mahasiswa itu adalah kader Muhammadiyah di masa depan.

Masalah radikalisme juga dibahas dalam pertemuan itu. Diakui Lincolin, masalah radikalisme saat ini cukup bergaung di lingkungan kampus.

“Permasalahan radikalisme saat ini sering diidentikkan dengan Islam,” tandas Lincolin Arsyad yang menerangkan di agama lain juga terdapat radikalisme.

Oleh karena itu, Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof H Lincolin Arsyad, MSc, PhD, berharap dalam Rakornas Bidang Kemahasiswaan Pimpinan PTMA perlu didiskusikan bersama soal radikalisme. “Supaya para mahasiswa menjadi kader yang baik di masa depan,” kata Lincolin Arsyad yang berharap kegiatan ini tidak menjadi yang terakhir. “Karena masalah ini urgent bagi kita semua.” (Affan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 4 =