MRT Jakarta: Jalur Lebak Bulus-Bundaran Hi Tersambung

     Jakarta, jurnalsumatra.com – PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta menyatakan seluruh jalur MRT, baik layang maupun bawah tanah, Fase 1 Koridor Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI) telah tersambung sepenuhnya.
“Secara keseluruhan, jalur MRT Jakarta dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI sudah tersambung. Kami optimis MRT Jakarta dapat beroperasi sesuai jadwal yang sudah ditentukan, yakni pada Maret 2019,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar di Jakarta, Rabu.
Hingga 25 Oktober 2017, menurut dia, perkembangan konstruksi MRT Jakarta telah mencapai 83,07 persen dengan rincian struktur layang sebesar 74,64 persen dan struktur bawah tanah sebesar 91,57 persen.
Terdapat 13 stasiun yang membentang di sepanjang koridor Lebak Bulus-Bundaran HI, yaitu 7 stasiun layang (Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja) dan 6 stasiun bawah tanah (Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas dan Bundaran HI).
“Selain itu, berkaitan dengan pemasangan rel kereta api atau railway track juga saat ini masih terus kami lakukan. Sejauh ini, sudah terpasang sepanjang 2.530 meter dari keseluruhan total panjang rel, yaitu sekitar 36 kilometer,” ujar William.

     Dia menuturkan sarana transportasi masal berbasis rel tersebut diperkirakan nantinya akan melayani hingga 173.400 penumpang setiap hari melalui 16 set kereta, yang terbagi atas 14 set kereta operasi dan 2 kereta cadangan.
“Perkiraan jumlah penumpang setiap hari itu masih akan kami pertegas lagi melalui ridership survey yang saat ini masih kami laksanakan. Untuk total rute Lebak Bulus-Bundaran HI adalah 30 menit dengan jarak antar kereta 5 menit sekali,” tutur William.
Sementara itu, dia mengungkapkan MRT Jakarta Fase 2 Koridor Bundaran HI-Kampung Bandan ditargetkan mulai dibangun pada Oktober 2018 mendatang. Pihaknya optimis pembangunan MRT dapat meningkatkan mobilitas masyarakat.
“Melalui MRT, kami ingin mendorong perubahan gaya hidup masyarakat, yakni dari kendaraan pribadi ke transportasi publik, sehingga kemacetan lalu lintas dapat diatasi, sekaligus juga memperbaiki kualitas udara,” ungkap William.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × three =